Jejakfakta.com, MAKASSAR – Upaya Pemerintah Kota Makassar dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir kembali mendapat perhatian dan apresiasi dari daerah lain.
Kali ini, Pemerintah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, datang langsung ke Kota Makassar untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah yang dinilai berhasil dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kabupaten Sigi, Mohammad Rizal Intjenae, saat melakukan kunjungan resmi dan diterima langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Jumat, 2 Januari 2026.
Baca Juga : PGIW Sulselra Siap Jadi Mitra Strategis Pemkot Makassar, Dukung Program Pembangunan dan Perkuat Toleransi
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Sigi menilai Kota Makassar telah menunjukkan kemampuan mengelola persoalan persampahan secara mandiri, sistematis, dan terintegrasi, mulai dari proses pemilahan di sumber, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan akhir.
“Kami ke sini untuk bersilaturahmi sekaligus menjajaki kerja sama pengelolaan sampah. Tentu kami ingin menerapkannya di Kabupaten Sigi,” jelas Rizal Intjenae.
Model pengelolaan sampah yang diterapkan Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dinilai relevan untuk direplikasi, khususnya bagi daerah yang tengah berupaya meningkatkan kualitas layanan lingkungan dan pengelolaan sampah perkotaan.
Baca Juga : HUT ke-69 Kodam Hasanuddin, Munafri Tegaskan Kolaborasi TNI dan Pemda Kunci Pembangunan Makassar
Rizal menyebutkan, kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang studi pembelajaran, tetapi juga mencerminkan tumbuhnya semangat kolaborasi antardaerah dalam mencari solusi konkret atas tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks.
Dalam keterangannya, Rizal mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Makassar bertujuan membuka peluang kolaborasi, khususnya dalam pengelolaan sampah plastik yang telah dikembangkan Pemerintah Kota Makassar melalui berbagai inovasi, salah satunya Gerakan Mengelola Sampah (GEMA).
“Saya datang ke sini bertemu Pak Wali untuk menjajaki kerja sama. Saya melihat langsung bagaimana perkembangan pengelolaan sampah plastik di Makassar yang diolah melalui program GEMA dan inovasi lainnya,” ujarnya.
Baca Juga : Hari Lahir Pancasila, Munafri Ajak Warga Makassar Jaga Harmoni dan Perkuat Persatuan
Ia menambahkan bahwa sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu sangat lama, sehingga perlu penanganan serius dan berkelanjutan.
“Itu sudah diterapkan oleh Pak Wali Munafri di Kota Makassar,” tambahnya.
Rizal menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Sigi berencana memberdayakan sampah plastik agar memiliki nilai tambah ekonomi, khususnya bagi petugas kebersihan dan masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Baca Juga : Hadiri Sannipata Waisak, Munafri Tegaskan Makassar Rumah Bersama dan Benteng Toleransi di Tengah Keberagaman
“Kami memiliki TPA dengan luas sekitar 40 hektare. Jika dikelola dengan baik, sampah plastik bisa menambah pendapatan bagi para pekerja kebersihan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rizal menyampaikan ketertarikannya mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi energi atau produk bernilai ekonomi melalui pembangunan fasilitas pengolahan di TPA maupun kerja sama dengan investor.
Ia mengungkapkan bahwa Wali Kota Makassar telah menyatakan kesiapan untuk mempertemukannya dengan investor yang selama ini terlibat dalam pengelolaan sampah plastik di Kota Makassar.
Baca Juga : Makassar Half Marathon 2026 Jadi Mesin Penggerak Ekonomi, Hotel Penuh dan UMKM Panen Rezeki
Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja baru di Kabupaten Sigi.
“Pengelolaan sampah di Sigi sebenarnya sudah berjalan. Kami sudah punya TPA, tinggal bagaimana sampah plastik ini diolah lebih lanjut agar bernilai ekonomi lebih besar,” katanya.
Menjawab alasan memilih Makassar sebagai mitra, Rizal menyebut Makassar telah memiliki ekosistem industri pengolahan sampah plastik yang matang dibandingkan daerah lain.
“Di Makassar industrinya sudah jadi dan matang. Kalau di kami masih mentah dan belum menjadi produk bernilai ekonomi besar,” tuturnya.
Rencana kerja sama ini diharapkan segera ditindaklanjuti melalui kunjungan balasan Wali Kota Makassar ke Kabupaten Sigi serta pembahasan teknis bersama investor dan perangkat daerah terkait.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memaparkan konsep pengelolaan sampah terintegrasi yang terus dikembangkan Pemkot Makassar, tidak hanya untuk pengurangan sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, mendukung ketahanan pangan, serta terhubung dengan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Munafri menjelaskan, tidak semua jenis sampah plastik memiliki nilai jual tinggi. Namun, Pemkot Makassar tetap mengoptimalkan pemanfaatannya, termasuk melalui kerajinan dan inovasi daur ulang.
Untuk sampah organik, Pemkot Makassar menerapkan sistem pengolahan berbasis masyarakat hingga tingkat RT dengan metode komposter, eco-enzyme, maggot, dan teba.
“Ujungnya ke pertanian, peternakan, dan perikanan. Maggot untuk ikan dan ayam petelur, kompos untuk urban farming,” jelasnya.
Munafri menegaskan komitmen Pemkot Makassar menghadirkan pembangunan berkelanjutan berbasis pengelolaan sampah terintegrasi, penguatan sektor pangan, serta industri hijau berbasis energi terbarukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




