Jejakfakta.com, MAKASSAR – Ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan utama dalam Sidang Dewan Pleno (SDP) ke-18 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Tahun 2026. Dari Makassar, HIPMI secara tegas mengusulkan skema kredit khusus bagi pengusaha kelas menengah dengan plafon Rp20 miliar hingga Rp50 miliar.
SDP HIPMI 2026 resmi dibuka Ketua Dewan Kehormatan BPP HIPMI yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, di Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (15/2/2026). Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dan Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi.

Kelas Menengah Tergerus, HIPMI Minta Afirmasi
Baca Juga : Presiden Prabowo Terima Laporan Menteri ESDM: Pasokan Energi Nasional Aman, IUP Dievaluasi
Ketua Umum BPP HIPMI, Akbar Himawan Buchari, menyoroti tren penurunan kelas menengah nasional yang dinilai dapat menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi.
“Kelas menengah kita turun dari 21 persen menjadi sekitar 17 persen dan terus mengalami degradasi. Ini perlu afirmasi dan insentif agar mereka bisa bertahan dan tumbuh,” tegasnya.
Menurut Akbar, insentif selama ini lebih banyak menyasar sektor mikro dan kecil, seperti PPh final 0,5 persen dan KUR. Sementara itu, pengusaha kelas menengah dinilai belum memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai untuk ekspansi usaha.
Baca Juga : ASN Luwu Timur Masuk Komcad Sulsel 2026, 8 ASN Resmi Jadi Komponen Cadangan Pertahanan Negara
Karena itu, HIPMI mengusulkan skema kredit khusus usaha menengah dengan plafon Rp20 miliar hingga Rp50 miliar guna menjaga daya beli, memperkuat supply-demand, serta mendorong ekspansi usaha produktif.
Konsolidasi 38 Provinsi dan DOB Papua
Dalam laporannya, Akbar menyampaikan bahwa Makassar ditetapkan sebagai tuan rumah berdasarkan keputusan rapat lengkap BPP HIPMI Januari 2026. Ia juga melaporkan konsolidasi organisasi telah rampung di 38 provinsi, termasuk empat daerah otonomi baru di Papua: Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat.
Baca Juga : Eksaminasi Publik Bongkar Dugaan Kekeliruan Fatal Putusan Buruh KIBA, Dinilai Ancam Hak Pekerja Nasional
“Memang tidak mudah, tiap daerah punya tantangan berbeda, tapi amanat Munas harus dijalankan,” ujarnya.
Bahlil: HIPMI Cinta Pertama, Energi Masih Tantangan
Dalam sambutannya, Bahlil menyampaikan salam Presiden Prabowo kepada seluruh kader HIPMI. Ia menyebut HIPMI sebagai “cinta pertama” yang membentuk karakter kepemimpinannya.
Baca Juga : Diskominfo Makassar Gandeng Apple Developer Academy, Perkuat Talenta Digital Mahasiswa
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina dan ketegangan Timur Tengah, Bahlil menilai ekonomi Indonesia masih relatif stabil dengan pertumbuhan di atas 5,3 persen dan inflasi di bawah 3 persen.
“Di antara negara-negara G20, pertumbuhan terbesar memang India, setelah itu Indonesia. Ini patut kita syukuri,” katanya.
Namun, sektor energi masih menghadapi tantangan serius. Lifting minyak nasional terus menurun dibanding era 1996–1997. Meski begitu, ia mengungkapkan target lifting APBN terakhir tercapai sekitar 605 ribu barel per hari—capaian yang disebutnya sebagai yang pertama dalam 10 tahun terakhir.
Baca Juga : Dekatkan Layanan ke Masyarakat, Tim Lontara+ Ramaikan CFD Makassar
Di sisi lain, impor energi masih membebani hingga sekitar Rp520 triliun per tahun. Bahlil menekankan pentingnya peran pengusaha muda dalam mendorong investasi sektor energi demi memperkuat kemandirian nasional.
Menuju Rekomendasi Strategis Nasional
SDP HIPMI 2026 diharapkan melahirkan rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Bagi HIPMI, keberpihakan pada kelas menengah menjadi kunci agar Indonesia mampu menembus target pertumbuhan 8 persen sekaligus keluar dari jebakan middle income trap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




