Pagi itu, deretan sepatu kecil tertata di depan ruang kelas sebuah sekolah dasar di pelosok Luwu Timur. Di dalamnya, anak-anak duduk dengan seragam rapi dan tas baru di punggung mereka. Beberapa di antaranya adalah penerima manfaat program Lutim Pintar—sebuah ikhtiar yang lahir dari komitmen kepemimpinan Irwan Bachri Syam dan Puspawati Husler dalam satu tahun terakhir.
Genap setahun memimpin, pasangan ini menegaskan arah pembangunan daerah pada satu titik yang sama: pendidikan. Di bawah visi “Luwu Timur Maju dan Berkelanjutan”, keduanya meyakini bahwa masa depan daerah tidak hanya dibangun dari infrastruktur megah, tetapi dari ruang-ruang kelas yang hidup dan penuh harapan.

Lutim Pintar: Menjaga Asa, Membuka Jalan
Baca Juga : Menenun Harapan Sehat dari Luwu Timur untuk Semua
Bagi sebagian keluarga, biaya pendidikan masih menjadi beban. Seragam, buku, ongkos transportasi, hingga biaya kuliah kerap menjadi penghalang mimpi. Melalui program Lutim Pintar, pemerintah daerah berupaya menjembatani jarak antara harapan dan kenyataan.
Program ini mencakup beasiswa bagi siswa kurang mampu dan berprestasi, bantuan perlengkapan sekolah, hingga dukungan biaya pendidikan bagi mahasiswa, termasuk yang menempuh studi di luar daerah.
Bupati Irwan Bachri Syam menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tak boleh ditunda.
Baca Juga : 70 UMKM Gratis Berjualan, Pasar Ramadhan Luwu Timur Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Umat
“Kami ingin memastikan setiap anak di Luwu Timur memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya. Lutim Pintar bukan sekadar bantuan, tetapi komitmen kami untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Dalam satu tahun terakhir, ratusan siswa dari jenjang SD hingga SMA telah merasakan manfaatnya. Di balik angka-angka itu, ada cerita tentang anak nelayan yang kini berani bercita-cita menjadi dokter, atau putri petani yang melanjutkan kuliah tanpa lagi membebani orang tuanya.
Sekolah yang Lebih Layak, Belajar yang Lebih Nyaman
Perhatian tidak berhenti pada bantuan personal. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga bergerak memperbaiki wajah sekolah-sekolah yang selama ini membutuhkan sentuhan.
Ruang kelas yang dulu bocor saat hujan kini telah direhabilitasi. Lantai yang retak diganti, atap diperbaiki, meubelair diperbarui. Di beberapa wilayah dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat, pembangunan unit sekolah baru mulai dilakukan. Laboratorium dan perpustakaan dilengkapi, sementara fasilitas sanitasi dan akses air bersih ditingkatkan.
Wakil Bupati Puspawati Husler menekankan bahwa kualitas belajar sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah.
Baca Juga : Ratusan Petani Laoli Terancam Digusur untuk PSN, Pemkab Luwu Timur Diduga Langgar HAM
“Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga oleh sarana yang memadai. Karena itu, kami mendorong percepatan rehabilitasi sekolah-sekolah yang membutuhkan perbaikan, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih,” ungkapnya.
Di sejumlah sekolah terpencil, kehadiran perangkat teknologi informasi juga mulai membuka cakrawala baru. Digitalisasi pembelajaran diperkenalkan secara bertahap, memberi ruang bagi siswa untuk mengenal dunia yang lebih luas dari layar di depan mereka.
Membangun Manusia, Bukan Sekadar Gedung
Baca Juga : Ancaman Penggusuran Lahan Petani Laoli Luwu Timur, Terkait Proyek Strategis Nasional
Namun bagi Irwan dan Puspawati, pendidikan bukan hanya soal bangunan fisik. Guru dan tenaga pendidik menjadi fondasi utama. Pelatihan, workshop kurikulum, hingga peningkatan kompetensi dalam pemanfaatan teknologi terus difasilitasi.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan kepala sekolah, guru, orang tua, dan dunia usaha sangat penting. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” tegas Irwan.
Di sinilah letak esensi satu tahun kepemimpinan mereka: membangun manusia. Sebab gedung bisa berdiri dalam hitungan bulan, tetapi mencetak generasi unggul membutuhkan komitmen jangka panjang.
Fondasi yang Sedang Ditata
Satu tahun mungkin belum cukup untuk menuai hasil besar. Namun fondasi telah diletakkan. Lutim Pintar menjadi simbol keberpihakan pada generasi muda, sementara pembangunan dan rehabilitasi sekolah menjadi wujud nyata keseriusan pemerintah daerah.
Di ruang-ruang kelas itulah masa depan Luwu Timur sedang ditulis—oleh tangan-tangan kecil yang kini belajar dengan lebih percaya diri.
Dan di balik setiap senyum anak sekolah, ada keyakinan bahwa pendidikan tetap menjadi jalan paling terang menuju hari esok yang lebih baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




