Senin, 02 Maret 2026 16:43

Kejahatan Jalanan Disorot Lewat Seni, Trauma Kota Jadi Ruang Edukasi Warga Makassar

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menerima audiensi dari komunitas Trauma Kota terkait rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menerima audiensi dari komunitas Trauma Kota terkait rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar

Kejahatan jalanan di Makassar disorot lewat program seni Trauma Kota. Wali Kota Munafri Arifuddin dukung pendekatan kultural untuk edukasi warga dan pulihkan rasa aman di ruang publik.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus melakukan berbagai upaya untuk menekan dan mencegah aksi liar serta tindakan kriminal di wilayah Kota Makassar.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan saat Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menerima audiensi dari komunitas Trauma Kota terkait rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).

Audiensi tersebut membahas inisiatif seni kolaboratif yang bertujuan merespons fenomena kejahatan jalanan, khususnya aksi negatif geng motor yang kerap melibatkan generasi muda dan berdampak pada menurunnya rasa aman masyarakat dalam menggunakan ruang publik.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Dampingi Wamen PKP Tinjau Kawasan Kumuh di Tallo, Pemkot Usulkan Hunian Vertikal

Penggagas kegiatan, Soekarno-Hatta, menjelaskan bahwa sejak 2012 hingga saat ini, Kota Makassar masih kerap menghadapi persoalan kejahatan jalanan yang dilakukan oleh oknum geng motor.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi persoalan sosial yang berpotensi menimbulkan trauma kolektif bagi warga serta memengaruhi citra kota.

"Kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor ini sangat berdampak pada menurunnya rasa aman warga dalam memanfaatkan ruang publik. Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan sosial dan psikologis yang bisa menimbulkan trauma," ujarnya.

Baca Juga : Tahun 2026, Pemkot Makassar Masih Terapkan Moratorium Mutasi ASN

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menggeneralisasi seluruh komunitas geng motor sebagai pelaku kejahatan.

Ia menyebut, terdapat pula kelompok-kelompok yang melakukan kegiatan positif serta membangun solidaritas di antara anggotanya.

"Kami melihat tidak semuanya bisa digeneralisasi. Ada juga komunitas yang membangun kebersamaan, solidaritas, dan praktik saling mendukung. Pendekatan kami adalah melihat persoalan ini secara lebih komprehensif," tambahnya.

Baca Juga : Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham Ajak Warga Perkuat Ukhuwah di Bulan Suci Ramadan

Program Trauma Kota diinisiasi sebagai ruang temu antara seni, warga, dan pemerintah melalui rangkaian pameran foto, seni pertunjukan (performance art), diskusi publik, serta lokakarya.

Kegiatan ini dirancang untuk digelar di lima kecamatan yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap fenomena geng motor, yakni Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.

Rangkaian kegiatan meliputi pameran foto yang menampilkan dokumentasi serta refleksi visual terkait fenomena geng motor.

Baca Juga : Buka Puasa Bersama di Makassar, Kepala BPOM RI Apresiasi Kiprah Aliyah Mustika Ilham

Diskusi publik akan menghadirkan narasumber dari pihak kecamatan, penggagas program, serta rencana melibatkan psikolog eksternal. Kegiatan juga akan diisi dengan pertunjukan seni performansi di ruang publik.

Selain itu, lokakarya telah dilaksanakan sejak Februari 2026 sebagai bagian dari proses pematangan konsep.

Workshop tersebut difokuskan pada pengembangan karya performansi yang nantinya akan dipentaskan di ruang publik di lima kecamatan tersebut.

Baca Juga : Di Panakkukang, Wali Kota Makassar Minta Warga Sampaikan Aspirasi Lewat LONTARA+

Lokakarya performansi telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, dengan pelaksanaan terakhir pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Studio Kala Teater.

Program ini menggunakan pendekatan seni partisipatif yang mengedepankan kolaborasi antara warga, seniman, dan para pemangku kepentingan sebagai respons kultural yang dinilai strategis dan relevan dalam menyikapi persoalan sosial perkotaan.

"Adapun tujuan utama dari program ini adalah memulihkan rasa aman warga di ruang publik Kota Makassar, membuka ruang dialog dan refleksi melalui medium seni," katanya.

"Serta mendorong keterlibatan aktif antara warga dan pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang aman dan ramah," sambungnya.

Sasaran program ini mencakup masyarakat Kota Makassar secara umum, generasi muda yang kerap terlibat dalam fenomena geng motor, aparat penegak hukum, serta pemangku kepentingan lintas sektor.

Untuk jadwal pelaksanaan pameran, kegiatan perdana direncanakan pada 21 April 2026 di Kantor Kecamatan Ujung Pandang.

Pameran foto akan berlangsung selama satu hari penuh dengan konsep instalasi foto di aula kantor kecamatan.

Keesokan harinya akan digelar diskusi publik, dilanjutkan dengan pertunjukan seni performansi, kemudian ditutup dengan pameran foto pada hari berikutnya.

Setelah dari Ujung Pandang, kegiatan akan berpindah ke Kantor Kecamatan Mariso dengan konsep yang sama. Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Mamajang Dalam.

Lokasi tersebut dipilih karena memiliki aula di lantai satu yang dinilai lebih mudah diakses masyarakat umum dibandingkan aula di lantai tiga.

Pada 6 Mei 2026, rangkaian kegiatan akan dilaksanakan di Kantor Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Rappocini, dengan format pameran foto, diskusi publik, seni performansi, serta pameran lanjutan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup di Kecamatan Manggala. Setiap lokasi akan menampilkan foto-foto yang berbeda sesuai konteks wilayah masing-masing sebagai bentuk edukasi dan kolaborasi lintas wilayah.

Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kota Makassar berharap pendekatan kultural berbasis seni dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam membangun kesadaran kolektif, memperkuat dialog sosial, serta menciptakan ruang kota yang lebih aman dan inklusif bagi seluruh warga. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Kejahatan Jalanan #geng motor #Trauma Kota #Munafri Arifuddin #Pemkot Makassar #seni performansi #Pameran Foto #edukasi publik #keamanan kota #kegiatan seni #Ruang Publik #program sosial
Youtube Jejakfakta.com