Jejakfakta.com, PINRANG – Ada yang berbeda di halaman MAN Pinrang, Rabu (4/3/2026). Jika biasanya siswa disibukkan dengan pelajaran formal, kali ini mereka justru diajak menyelami makna kedewasaan dan kesiapan hidup berumah tangga dalam kegiatan bertajuk “The Most KUA: Joyful Ramadhan Mubarak.”
Kegiatan ini merupakan inisiasi KUA Paleteang sebagai implementasi program nasional Kementerian Agama RI melalui gerakan MOST (Move for Sakinah Maslahat). Alih-alih mengajarkan nikah muda, program ini justru menjadi “rem” edukatif bagi generasi Z agar tidak tergesa-gesa mengambil keputusan besar sebelum benar-benar siap.

Kepala KUA Paleteang, H. Sakir, menegaskan bahwa edukasi pranikah kerap disalahpahami publik. Menurutnya, kehadiran KUA di madrasah bukan untuk mempromosikan pernikahan usia dini, tetapi untuk membekali siswa dengan pemahaman bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan lahir dan batin.
Baca Juga : Transformasi Digital dari Madrasah: Kisah Reni, Guru MAN Pinrang Meraih Sertifikasi Global Gemini Academy
“Edukasi ini justru agar mereka tidak terburu-buru. Pernikahan bukan soal siap suka, tapi siap tanggung jawab,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kepala MAN Pinrang, Drs. Ansyar, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai pemahaman tentang dampak pernikahan dini sangat penting ditanamkan sejak bangku madrasah agar siswa memiliki visi masa depan yang lebih matang dan terarah.
Sentuh Emosi dan Logika Siswa
Baca Juga : “Mengetuk Langit Setiap Pagi”; MAN Pinrang Istikamah Menjaga Tradisi melalui Zikir Harian
Kegiatan dikemas secara interaktif dan reflektif. Materi diawali dengan penguatan makna Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah sebagai fondasi keluarga ideal yang stabil dan harmonis. Siswa kemudian mengikuti sesi simulasi pengenalan karakter diri untuk memahami kontrol emosi, potensi pribadi, serta kesiapan mental sebelum membangun relasi serius.
Suasana makin hidup saat sesi diskusi kelompok dimulai. Para siswa mengulas kisah keteladanan para nabi dalam membangun keluarga dan menjaga kehormatan diri. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, membedah relevansi nilai-nilai kenabian dalam menghadapi tantangan pergaulan bebas dan tekanan sosial di era digital.
Antusiasme siswa terlihat dari interaksi aktif dan keberanian menyampaikan pandangan. Pendekatan dialogis ini dinilai efektif karena tidak menggurui, melainkan mengajak siswa berpikir kritis tentang masa depan mereka sendiri.
Baca Juga : Jadwal Buka Puasa Kota Makassar Selama Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah
KUA Bertransformasi Jadi Mitra Edukasi Remaja
Kehadiran penghulu dan penyuluh dalam kegiatan tersebut menegaskan transformasi KUA sebagai pusat edukasi keluarga yang inklusif dan dekat dengan generasi muda. Program MOST menjadi bukti bahwa pencegahan pernikahan dini tidak cukup dengan larangan, tetapi perlu literasi yang menyentuh kesadaran dan kesiapan pribadi.
Di bulan Ramadan yang sarat refleksi, pesan yang digaungkan jelas: menikah bukan soal cepat, tetapi soal tepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




