Jejakfakta.com, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, terus memperkuat kolaborasi strategis antara Pemerintah Kota Makassar dan Muhammadiyah. Fokus kerja sama ini diarahkan pada program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan warga, mulai dari pendidikan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan urban farming.
Hal tersebut disampaikan Munafri—akrab disapa Appi—saat menghadiri kegiatan Syawalan 1447 H yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar di Gedung BBPMP Sulsel, Jalan AP Pettarani, Minggu (12/4/2025).

Dalam sambutannya, Appi menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi fondasi penting dalam mendorong kemajuan kota.
Baca Juga : Sekda Makassar Dorong Peserta PKP Jadi Penggerak Perubahan, Pelayanan Publik Harus Berbasis Mutu
“Pertemuan ini menjadi bagian penting bagaimana pemerintah bersama organisasi besar seperti Muhammadiyah terus membangun sinergi dan kolaborasi untuk Kota Makassar,” ujarnya.
Pendidikan hingga Sampah Jadi Prioritas Kolaborasi
Appi menilai Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam pembangunan, didukung jaringan luas serta kontribusi nyata di sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga : Respons Aduan di Lontara+, Pemkot Makassar Gerak Cepat Padamkan Kebakaran Sampah di Jalan Leimena
Khusus di bidang pendidikan, Pemkot Makassar mendorong penguatan kerja sama dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Salah satunya melalui skema pembiayaan bagi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.
“Keberadaan sekolah Muhammadiyah harus tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Ini bagian penting menjaga kualitas pendidikan,” tegasnya.
Selain pendidikan, isu lingkungan—khususnya sampah—menjadi perhatian serius. Saat ini, volume sampah di Makassar mencapai sekitar 1.000 ton per hari.
Baca Juga : Wakil Wali Kota Makassar Hadiri ASCN 2026, Dorong Kolaborasi Smart City dan Ekonomi Kreatif
Appi mengajak Muhammadiyah untuk terlibat aktif dalam edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Sampah bisa bernilai ekonomi. Plastik bisa dijual, sampah organik bisa jadi kompos. Ini peluang tambahan penghasilan bagi keluarga,” jelasnya.
Dari Sampah ke Pangan: Model Ekonomi Sirkular
Baca Juga : Auditor KONI Makassar Siap Tempuh Jalur Hukum, Minta APAK dan GRH Tak Seret Nama Wali Kota Soal Dana Hibah
Pemkot Makassar juga telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, termasuk pemanfaatan maggot (larva lalat) sebagai pengurai sampah organik.
Konsep ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang mendukung urban farming dan ketahanan pangan.
“Dari sampah jadi maggot, dari maggot jadi pakan ternak, dari kompos jadi pupuk, lalu digunakan untuk urban farming. Ini sistem yang saling terhubung,” terang Appi.
Baca Juga : DLU Gandeng Kecamatan Wajo Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu, Perkuat Misi Makassar Zero Waste
Ia bahkan mendorong kader Muhammadiyah untuk membina minimal dua lorong sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah terintegrasi berbasis masyarakat.
Proyek Energi Sampah Rp3 Triliun
Tak hanya di tingkat komunitas, Pemkot Makassar juga tengah menggarap proyek besar pembangkit listrik berbasis sampah dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang terhadap persoalan lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menutup sambutannya, Appi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan pembangunan.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama. Tidak ada yang bisa diselesaikan sendiri tanpa kolaborasi,” pungkasnya. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




