Jejakfakta.com, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, menilai penyelenggaraan event bukan sekadar agenda seremonial. Di balik keramaian sebuah kegiatan, menurutnya, terdapat potensi besar untuk menggerakkan roda ekonomi kota.
Hal itu disampaikan Munafri saat menjadi pembicara pada Makassar Marketing Festival 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (13/8/2026).

Munafri mengatakan, kehadiran ribuan peserta dalam sebuah event memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, kuliner, pasar, transportasi hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Baca Juga : Rp2,5 Miliar Jadi Rp52,3 Miliar, MHM 2026 Mulai Diposisikan sebagai Mesin Ekonomi Makassar
“Semakin banyak orang yang datang, maka semakin besar pula uang yang berputar di dalam kota. Tamu-tamu ini akan belanja di pasar-pasar kami. Ini akan memenuhi kamar-kamar hotel kami dan sirkulasi ekonomi akan berjalan dengan kurva yang sempurna di kota ini,” kata Munafri.
Ia menyebut peningkatan aktivitas event juga dapat terlihat dari tingkat hunian hotel. Menurutnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dapat menjadi salah satu pihak yang melihat langsung dampak meningkatnya kunjungan ke Makassar.
“PHRI bisa menjadi saksi bagaimana peningkatan hunian hotel hari ini di Kota Makassar,” ujarnya.
Baca Juga : Porseni HUT ke-81 RI di Balai Kota Makassar: Munafri Tekankan Kekompakan ASN dan Peduli Sampah
Makassar Harus Dibenahi Sebelum Dipromosikan Besar-besaran
Di hadapan peserta festival, Munafri menegaskan Pemkot Makassar tidak ingin mengandalkan promosi kota semata. Menurutnya, pembenahan internal harus dilakukan lebih dahulu agar wisatawan yang datang mendapatkan pengalaman sesuai ekspektasi.
“Kami tidak ingin orang datang cuma sekali di Kota Makassar. Tapi kami ingin memperbaiki tata kota, lalu mengundang orang datang dan orang akan berdecak kagum dan datang untuk mengajak kolega-koleganya yang lain. Ini yang menjadi cita-cita kita,” tuturnya.
Baca Juga : HUT ke-81 RI di Makassar: Semarak Kemerdekaan Didorong hingga Tingkat RT/RW
Ia mengatakan pembenahan tersebut mencakup tata kota, infrastruktur, hospitality dan fasilitas pendukung lainnya.
Setelah fondasi kota semakin kuat, promosi Makassar dinilai dapat dilakukan secara lebih masif untuk menarik lebih banyak wisatawan, pelaku usaha, hingga investor.
Makassar Diibaratkan Taman Bunga
Baca Juga : Bekali Maba FH Unhas, Appi Ajak Mahasiswa Bergerak dari Ruang Kuliah ke Ruang Kebijakan
Munafri menggambarkan Makassar sebagai sebuah taman bunga yang memiliki beragam potensi. Mulai dari posisi geografis yang strategis, kekayaan budaya, kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif hingga dinamika kehidupan masyarakat urban.
“Selalu saya melihat bahwa Kota Makassar ibaratnya taman bunga. Makassar ini adalah sebuah taman bunga yang ditumbuhi dengan berbagai warna bunga yang ada,” kata Munafri.
Namun, ia mengakui masih ada persoalan yang dianalogikan sebagai “ilalang” yang menutupi potensi tersebut.
Baca Juga : Aliyah Dorong UMKM Makassar Merdeka Digital, AI Jadi Senjata Naik Kelas
Karena itu, ia menempatkan dirinya sebagai “tukang kebun” yang bertugas menata kota, membersihkan persoalan dan memastikan potensi Makassar dapat tumbuh serta terlihat.
“Sehingga dibutuhkan seorang tukang kebun yang mampu menata, menghilangkan semak belukar itu untuk memperlihatkan indahnya bunga-bunga yang ada di taman itu,” ujarnya.
“Dan tukang kebun itu, akan saya perankan dengan baik selama memimpin Kota Makassar di lima tahun ke depan,” sambung Appi.
Belanja Pemerintah Didorong Masuk ke Ekonomi Lokal
Selain mengandalkan event, Pemkot Makassar juga menjadikan kebijakan anggaran sebagai instrumen untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Munafri mengatakan pemerintah tengah mendorong sekitar 50 persen belanja pemerintah agar diarahkan untuk belanja lokal.
“Di dalam menyusun rencana anggaran, pemerintah pun begitu. Kami mencoba memotret bagaimana belanja pemerintah Kota Makassar ini, 50 persennya harus belanja lokal,” ungkapnya.
Belanja lokal tersebut diharapkan semakin banyak menyasar UMKM. Dengan demikian, uang yang dibelanjakan pemerintah dapat kembali berputar di dalam kota dan memperkuat daya beli masyarakat.
“Kalau dayanya kuat, tentu dampak ekonomi yang dirasakan pasti akan jauh lebih baik. Itu cara kami untuk menggerakkan ekonomi lokal yang ada di Kota Makassar,” terang Appi.
Branding Makassar Masih Dicari
Di tengah upaya memperkuat daya saing kota, Munafri juga mengakui Pemkot Makassar masih mencari identitas atau branding yang paling tepat.
Menurutnya, selama lebih dari satu tahun memimpin Makassar, sudah ratusan alternatif kata dan konsep yang dibahas. Namun, belum ada satu tagline yang dinilai mampu merepresentasikan Makassar secara utuh.
“Kalau kita melihat Kota Makassar, sampai detik ini, terus terang, saya masih mencari kata-kata yang sangat cocok untuk mem-branding kota ini,” katanya.
“Satu tahun lebih saya mencoba untuk mereset, mencari padanan yang sangat pas. Sampai detik ini belum ketemu,” lanjutnya.
Ia berharap branding tersebut nantinya mampu menempatkan Makassar bukan hanya sebagai kota besar di kawasan Indonesia Timur, tetapi juga memiliki positioning kuat di tingkat nasional maupun internasional.
Toleransi Jadi Modal Daya Saing Kota
Munafri juga menempatkan keamanan, kenyamanan dan toleransi sebagai bagian penting dari ekosistem pembangunan kota.
Menurutnya, kota akan sulit berkembang apabila persoalan sosial dan konflik masih menjadi ancaman bagi masyarakat maupun pengunjung.
Ia bersyukur posisi Makassar dalam indeks toleransi disebut mengalami peningkatan.
“Untuk kota-kota besar tahun sebelumnya kita berada di posisi 50-an, 40-an. Alhamdulillah tahun ini sudah masuk menjadi nomor 9 yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Peningkatan toleransi, kata dia, menjadi modal penting untuk menciptakan rasa aman sekaligus menarik wisatawan dan investor.
Creative Hub dan Digitalisasi Pemerintahan
Untuk menjawab tantangan kepemudaan dan pengangguran, Pemkot Makassar menghadirkan Makassar Creative Hub sebagai ruang pengembangan keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.
“Yang mau jadi entrepreneur silakan datang, yang mau jadi barista silakan datang, yang mau jadi makeup artist silakan datang, yang mau belajar coding silakan datang,” jelasnya.
Saat ini, Pemkot Makassar telah memiliki dua Makassar Creative Hub. Sejumlah kolaborasi dengan industri kreatif dan teknologi juga telah terjalin.
“Event Netflix pun sudah datang, Apple Academy pun sudah datang. Kami tidak mau cuma dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, tapi kami mau dikenal sebagai Kota Makassar, kota yang besar, The Great of Makassar,” tegasnya.
Di sektor pelayanan publik, Munafri menyebut Pemkot Makassar mengembangkan Lontara Plus untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi pemerintahan yang sebelumnya tersebar di masing-masing SKPD.
“Kami develop yang namanya Lontara Plus. Ini menggabungkan 380 aplikasi yang tumbuh di masing-masing SKPD. Kami jadikan satu,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan keberhasilan digitalisasi pemerintahan tidak cukup diukur dari jumlah aplikasi. Yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah merespons dan menindaklanjuti aduan masyarakat secara cepat.
Potensi Makassar Dinilai Belum Habis Digali
Munafri menyebut Makassar memiliki garis pantai yang panjang, gugusan kepulauan Spermonde, kekayaan kuliner serta posisi strategis pada jalur perdagangan dan konektivitas Asia-Pasifik.
Sejarah Makassar sebagai kota perdagangan sejak berabad-abad lalu, menurutnya, dapat menjadi modal untuk memperkuat kembali posisi kota sebagai pusat perdagangan, jasa, pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan Indonesia Timur.
Pada akhirnya, seluruh potensi tersebut membutuhkan tata kelola yang efektif agar benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat.
“Kota Makassar ini sudah punya aura yang sangat kuat untuk maju. Dengan berbagai macam aktivitas kehidupan di dalamnya sebagai kota urban,” kata Munafri.
Ia menegaskan seluruh kebijakan pemerintah diarahkan pada konsep impactful government, yakni pemerintahan yang program dan kebijakannya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
“Dengan berbagai potensi dan tantangan yang di kota ini, kami meyakini Makassar memiliki peluang besar untuk menjadi kota yang semakin kompetitif,” tukasnya. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




