Jejakfakta.com, Jakarta - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2015, Abraham Samad hingga Saut Situmorang mendatangi gedung Merah Putih, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan guna meminta Ketua KPK, Firli Bahuri dicopot.
Abraham Samad dan Saut Situmorang datang bersama puluhan massa aksi yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat sipil pukul 13.49 WIB.

Selain itu, hadir pula mantan penasehat KPK Abdullah Hemahahua, dan mantan penyidik KPK yang telah dipecat karena dinyatakan tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).
Baca Juga : KPK Terima Ribuan Laporan Dugaan Korupsi Sepanjang 2023, Selamatkan Aset Rp525.415.553.599

Tampak juga Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Denny Indrayana, dan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana.
Mereka membawa poster bertuliskan Dugaan Perkara bocor, Firli Harus Dicopot, Masa Depan KPK Lebih Penting Daripada Masa Depan Firli, dan lainnya.
Salah seorang massa aksi juga mengenakan topeng wajah Firli Bahuri dengan kalung bertuliskan PELANGGAR ETIK.
Baca Juga : Usai Kampanye di Bone, Capres Anies Baswedan Penuhi Undang Paku Integritas di KPK
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan, pihaknya hari ini datang ke KPK untuk menyalakan tanda bahaya.
Menurut Usman, KPK tidak hanya dilemahkan dari luar melalui perubahan Undang-Undang KPK dan lainnya.
Namun, kata Usman, saat ini KPK mengalami pelemahan dari dalam karena dipimpin oleh ketua yang diduga melanggar etik.
Baca Juga : Nilai Tak Bertaji Lagi, Mahfud MD Ingin Kembalikan UU KPK Sebelum Direvisi
Menurutnya, terdapat cara untuk menyelematkan KPK. Salah satunya adalah dengan mencopot Firli.
"Jalan satu satunya adalah dengan mencopoti pemimpin yang tidak beretika, copot Firli, copot Firli!" teriak Usman.
Diketahui, sejak dua pekan lalu, Firli dilaporkan sejumlah pihak ke Dewas atas dugaan pelanggaran etik antara lain, mencopot Direktur Penyelidikan Brigjen Endar Priantoro.
Baca Juga : KPK Tahan Bupati EAR, Diduga Terkait Fee Proyek dari Kontraktor
Kemudian, memaksakan menaikkan Formula E ke tahap penyidikan hingga diduga terlibat membocorkan dokumen penyelidikan dugaan korupsi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




