Jejakfakta.com, Makassar - Bakal calon presiden (Bacapres) dari Koalisi Perubahan, Anies Baswedan mengungkap masalah urbanisasi saat memberikan pemaparan program dalam acara diskusi Rakernas XVI APEKSI 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (13/7/2023).
Menurut Anies, meski Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan maritim, tapi lebih banyak masyarakat memilih untuk merantau ke kota besar seperti Jakarta, dibandingkan tinggal desa.

"Indonesia adalah sebuah negara yang dikenal agraris dan maritim, tapi sejak 2009 lebih banyak penduduk tinggal di kota daripada di desa," ujar Anis, melalui siaran Youtube Kominfo Makassar.
Baca Juga : Ini Pernyataan AMIN Usai KPU Menetapkan Prabowo-Gibran Menang Pilpres 2024
"Jadi kalau sampai dengan sekarang 14 tahun kemudian, proporsi penduduk tinggal di kota lebih banyak dari pada di desa," sambungnya.
Kata Anies, urbanisasi adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari dan itu terjadi di seluruh dunia.
"Urbanisasi itu oke, baik-baik saja, yang tidak baik itu Jakartanisasi, ke Jakarta semua, thats not good. Tapi, kalau urbanisasi oke, itu normal dan terjadi di seluruh dunia," katanya.
Baca Juga : Anies Hadiri Penandatanganan Komitmen Kemerdekaan Pers, Ganjar via Zoom dan Prabowo Diwakilkan
Anies juga menanggapi pernyataan Ketua Apeksi bahwa di 2045, 70 persen penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Masalah ini, kata Anies, harus diantisipasi mulai dari sekarang dengan perencanaan yang baik, sehingga problem di Jakarta tidak terulang di kota-kota besar lainnya.
"Sekarang 57 (persen penduduk tinggal di kota), bila kita biarkan tanpa perencanaan yang serius secara kolektif, nanti kita mengulangi maslah yang ada di Jakarta," ujarnya.
Sementara itu, Anies juga memaparkan soal kontribusi pada ekonomi dari penambahan penduduk di perkotaan Indonesia. Menurutnya, kota-kota yang ada belum produktif secara ekonomi.
Baca Juga : Anies Baswedan Sebut Parepare Salah Satu dari 40 Kota yang akan Ditingkatkan Pembangunannya
"Di perkotaan ini, kontribusi dari penambahan penududuk perkotaan itu setiap 1 persen penambahan PDB perkapita nasional meningkatnya 1,4 persen. Sementara di negara-negara asia lainnya, tambah 1 persen penduduk urban, itu meningkat PDB sampai 3 persen. Artinya kota-kota kita belum jadi yang produktif secara ekonomi," jelasnya.
Data menunjukkan, sebanyak 30 juta penduduk di perkotaan tinggal di pemukiman yang tidak layak. Kata Anies, adanya kesenjangan sosial yang tinggi di perkotaan.
"Dulu saya menginisiasi pengiriman guru-guru ke plosok-plosok di Tanah Air, karena adanya ketimpangan itu," paparnya.
Baca Juga : Nelayan Curhat Sulitnya Izin Berlayar dan Bahan Bakar di Parepare, Anies: Aturan Kita Ubah
Ternyata, beber Anies, ketimpangan yang terjadi di Jakarta terlihat dari jurang yang lebar antara yang miskin dan kaya.
"Kami memandang sebaiknya jangan mengulang problematika yang dilewati beberapa dekade di Jakarta dan kota besar lainnya, tapi mulai dari sekarang kita tata agar kota-kota kita ketika nantinya jadi kota besar, dia menjadi kota yang layak huni," jelasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




