Jumat, 09 Februari 2024 18:33

Koalisi Masyarakat Sipil Somasi Presiden Jokowi Soal Penyalahgunaan Kekuasaan, Ini 5 Poinnya

Editor : Nurdin Amir
Penulis : Atri Suryatri Abbas
 Koalisi Masyarakat Sipil. @Jejakfakta/dok (Kontras.org)
Koalisi Masyarakat Sipil. @Jejakfakta/dok (Kontras.org)

Jika somasi ini tidak ditindaklanjuti maka Koalisi Masyarakat Sipil siap mengambil langkah hukum, baik administratif, perdata, hingga pidana.

Jejakfakta.com, Jakarta -- Koalisi Masyarakat Sipil dari 33 organisasi menyampaikan somasi terhadap Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam keterangan tertulisnya, mereka menganggap Jokowi menunjukkan keculasan jelang pemungutan suara Pemilu 2024.

Presiden Jokowi, kata koalisi, telah menunjukkan serangkaian kecurangan, ketidaknetralan, hingga penyalahgunaan kekuasaan pada Pemilu 2024.

Pandangan itu didasari oleh aturan-aturan yang dinilai sebagai produk penyalahgunaan kekuasaan seperti putusan Mahkamah Konstitusi nomor 90/PUU-XXI/2023 yang memperbolehkan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden meski baru berusia 36 tahun.

Baca Juga : Agenda Kunker Presiden Jokowi di Sulsel, Resmikan Makassar New Port hingga Silaturahmi 1.000 Warga di Maros

Aturan lainnya ialah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 53 tahun 2023 yang memperbolehkan pejabat untuk tidak mengundurkan diri jika ikut berkontestasi sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.

Selain itu mereka juga menyebut bantuan sosial (bansos) yang dianggap begitu massal jelang pemilu juga merupakan bagian dari rangkaian kecurangan Jokowi untuk memenangkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran.

Terlebih, anggaran untuk bansos pada 2024 dianggap sangat besar yaitu Rp 496.8 triliun, lebih besar dari bansos saat pandemi Covid-19.

Baca Juga : Nestapa Electoral

Alasan lain mereka melakukan somasi terhadap Jokowi ialah karena adanya rangkaian intimidasi terhadap para guru besar yang menyampaikan kritik kepada Kepala Negara.

Dalam keterangan tertulisnya, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Dimas Bagus Arya menegaskan koalisi masyarakat sipil memutuskan untuk memberi somasi kepada Jokowi.

Koalisi Masyarakat Sipil mensomasi Presiden Joko Widodo untuk dan dalam tempo hingga 14 Februari 2024. "Pertama, meminta maaf kepada seluruh rakyat atas keculasan dan tindakan niretika yang dilakukan,” kata Dimas di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2024).

Baca Juga : Isi Deklarasi Tokoh Agama FPID Soal Hasil Quick Count Pilpres 2024

Kedua mereka mensomasi Jokowi agar mencabut pernyataan cawe-cawe, presiden boleh berkampanye dan memihak, serta berjanji untuk bertindak netral dalam gelaran pemilu.

“Ketiga, menertibkan para pembantunya, khususnya menteri-menteri untuk patuh pada aturan dan etika bernegara,” ujar Dimas.

Keempat ialah agar Jokowi menghentikan pembagian bansos dengan motif politik jelang hari pemungutan suara dan putaran kedua Pilpres 2024.

Baca Juga : Koalisi OMS Sulsel Ungkap Indikasi Kecurangan Pemilu 2024 di Sulawesi Selatan

“Kelima, menginstruksikan Kapolri, TNI, dan ASN untuk betul-betul netral dan memberi pesan tegas untuk menjatuhkan sanksi apabila terdapat penyelewengan berkaitan dengan netralitas dan profesionalitas,” tegas Dimas.

Lebih lanjut, ia menyebut jika somasi ini tidak ditindaklanjuti maka Koalisi Masyarakat Sipil siap mengambil langkah hukum, baik administratif, perdata, hingga pidana.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Koalisi Masyarakat Sipil #somasi #Joko Widodo #Pilpres 2024
Youtube Jejakfakta.com