Jumat, 22 Maret 2024 05:38

Sepenggal Sejarah "Masjid Nurul Jamaah" Bontoala Makassar yang Desainnya Bak Masjid Turki

Editor : Nurdin Amir
Penulis : Samsir
Masjid Nurul Jamaah Kota Makassar, yang menyerupai Masjid Turki merupakan saksi bisu penyebaran kebudayaan Islam di Sulawesi Selatan. @Jejakfakta/Samsir
Masjid Nurul Jamaah Kota Makassar, yang menyerupai Masjid Turki merupakan saksi bisu penyebaran kebudayaan Islam di Sulawesi Selatan. @Jejakfakta/Samsir

Masjid Nurul Jamaah dibangun oleh seorang bangsawan Turki bernama Lajagiru pada tahun 1635.

Jejakfakta.com, Makassar -- Masjid Nurul Jamaah yang terletak di pertigaan Jalan Kandea dan Jalan Lamuru, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, merupakan saksi bisu penyebaran kebudayaan Islam di Sulawesi Selatan.

Bagi anda yang lewat di dua jalan tersebut, anda akan diperlihatkan masjid dengan gaya ala Masjid Turki. Kemudian terlihat tulisan "MASJID NURUL JAMAAH BONTOALA TOA ANNO 1635" sebagai tanda pengenal Masjid.

Dalam pantauan, Kamis (21/3/2024) sekitar pukul 17.00 Wita tampak suasana sekitar masjid ini ramai oleh aktivitas warga yang menggelar buka puasa bersama. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Baca Juga : Kolaborasi Jadi Kunci, Lutim Dorong Pelestarian Budaya sebagai Arah Pembangunan Berkelanjutan

Terlihat sejumlah anak-anak berbaur dengan orang dewasa menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Sepenggal Kisah Masjid Nurul Jamaah

Marbot Masjid, Eka Gunawan Setiadi, menceritakan bahwa awalnya masjid ini dibangun oleh seorang bangsawan Turki bernama Lajagiru pada tahun 1635.

Baca Juga : Antusias Sambut Ramadan, Warga Gotong Royong Bersihkan Masjid Tua Katangka yang Sarat Sejarah

Disebutkan, Lajagiru ini mewakafkan tanahnya untuk dibangun sebuah masjid yang kini bernama Masjid Nurul Jamaah.

Karena Lajagiru yang berketurunan Turki tersebut, kata marbot ini, makanya gaya Masjid Nurul Jamaah menyerupai masjid yang ada di Turki.

"Jadi beliaulah (Lajagiru) yang mendirikan masjid pertama kali di sini. Makamnya ada di belakang masjid," ujar Eka Gunawan yang baru kisaran dua tahun sebagai pengurus Masjid.

Baca Juga : “Pakkamase” Menggelar Museum Keliling Koleksi Kepresidenan Untuk Pertama Kalinya di Indonesia Timur

Pada awal dibangun masjid ini, informasi yang didapatkan oleh Eka Gunawan saat itu luasanya hanya berukuran 10 meter persegi.

Namun, karena kondisi jamaah yang semakin banyak, maka terjadi penambahan bangunan yang saat ini sudah berlantai dua.

"Bangunan awalnya kecil, mungkin sekitar 10 meter persegi. Sekarang mungkin sekitar 50 meter persegi. Dan bisa menampung 200 jemaah," urainya.

Baca Juga : Kisah Berdirinya Masjid Nurul Jami' Mu'minin, Tempat Persinggahan Raja Gowa Sultan Muhammad Zainal Abidin

Masjid Nurul Jamaah yang terletak di pertigaan Jalan Kandea dan Jalan Lamuru, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, merupakan saksi bisu penyebaran kebudayaan Islam di Sulawesi Selatan. @Jejakfakta/Samsir

Menurut Eka, sebelumnya masjid ini dicat berwarna hijau dan setelah direnovasi, kini berwarna coklat.

"Sebelumnya warna hijau, sekarang warna begini (coklat)," sebutnya.

Baca Juga : Revitalisasi Pesanggrahan dan TK Pertiwi Tanete Jadi Kado Akhir Tahun 2023

Saat ini, pengelola Masjid Nurul Jamaah menyiapkan tiga Iman tetap. Sementara untuk Marbot berjumlah empat orang yang bertugas merawat masjid ini.

"Iman masjid ada tiga. Marbot ada empat, beda-beda tugasnya," ujar Eka Gunawan.

Selain membangun Masjid Nurul Jamaah, sosok Lajangiru yang dikenal dermawan juga mewakafkan tanahnya untuk pemakaman warga yang dikenal Pekuburan Arab Bontoala.

Makam Lajangiru oleh pemerintah telah menjadikan sebagai satu situs cagar budaya yang ada di Sulawesi Selatan.

Hingga kini, makam Lajangiru masih kerap dikunjungi oleh keturunannya yang datang berziarah.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Masjid Nurul Jamaah #kebudayaan Islam #Masjid Turki #Lajangiru #cagar budaya
Youtube Jejakfakta.com