Jejakfakta.com, Yogyakarta -- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengumumkan Idul Fitri 1445 Hijriah jatuh pada 10 April 2024. Meski sudah memiliki keputusan, tapi Muhammadiyah menghormati jika nantinya ada perbedaan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir saat agenda Silaturahmi Ramadan 1445 H di Kantor PP Muhammadiyah, Sabtu (6/4/2024).

"Selamat Idul Fitri seluruh muslimin, Muhammadiyah ber-Idul Fitri pada 10 April dan tampaknya akan sama dengan pemerintah," ujar Haedar.
Baca Juga : Bupati Yusran Pimpin Apel Perdana Usai Libur Lebaran, Disiplin ASN Pangkep Capai 98 Persen
Namun, kata Haedar, jika nanti ada perbedaan, ia yakin masyarakat Indonesia sudah memasuki fase memahami toleransi.
“Kami harapkan masyarakat tidak perlu bingung, Ramadhannya beda tapi Idul Fitrinya sama, karena ada perbedaan cara penetapan,” tutur Haedar.
Dalam usaha untuk menyatukan dan menyelesaikan masalah perbedaan ini, Muhammadiyah saat ini sedang mengkampanyekan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Baca Juga : Takbir Bergema di Masjid Agung Malili, Bupati Irwan Ajak Jadikan Idulfitri Momentum Akselerasi Pembangunan
Haedar menuturkan, KHGT ini diharapkan tidak hanya berlaku untuk Indonesia saja, melainkan juga untuk umat Islam di seluruh dunia.
Perbedaan yang selama ini terjadi diharapkan tidak terulang kembali pada masa mendatang.
Selain itu, KHGT sebagai jawaban Muhammadiyah atas utang peradaban yang dimiliki oleh Islam.
Baca Juga : Bupati Yusran Shalat Id di Pegunungan, Warga: "Beliau Dekat dengan Kami"
“Nanti satu tanggal baru itu berlaku untuk di semua negara. Seperti kalender masehi yang tidak ada perbedaan,” katanya.
Muhammadiyah memandang jika masih terus menggunakan kalender sesuai dengan negara masing-masing, maka besar kemungkinan masih akan terus terjadi perbedaan dalam menentukan waktu-waktu penting umat Islam.
Sementara itu tentang menghormati perbedaan, Haedar menjelaskan, melalui praktik ibadah puasa Ramadhan.
Baca Juga : Jadwal Buka Puasa Kota Makassar Selama Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah
Menurutnya, Puasa Ramadan bagi muslim tidak sekadar mengubah waktu makan, tapi juga meningkatkan ketakwaan dan kesalihan.
Kesalihan dalam pandangan Muhammadiyah tidak hanya berlaku pada pribadi atau individu, tetapi juga pada keluarga, sosial – masyarakat, bahkan sampai pada kesalihan bernegara dan antar bangsa.
Nilai-nilai utama yang terkandung dalam kesalihan diharapkan menjadi landasan untuk saling menghormati dan bertoleransi di atas semua perbedaan yang ada di muka bumi ini.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




