Ahad, 12 Mei 2024 11:16

AJI Nilai Ada Pasal Bungkam Pers dalam Draft RUU Penyiaran

Editor : Nurdin Amir
Yovantra Arief, Direktur Eksekutif Remotivi, dan Bayu Wardhana dalam konferensi pers di Rumah Jurnalisme - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Rabu (24/4/2024). @Jejakfakta/dok. AJI
Yovantra Arief, Direktur Eksekutif Remotivi, dan Bayu Wardhana dalam konferensi pers di Rumah Jurnalisme - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Rabu (24/4/2024). @Jejakfakta/dok. AJI

Pada pasal 50B ayat 2 juga terkandung larangan atas penayangan eksklusif jurnalistik investigasi (huruf c). Klausul ini dinilai dapat mengancam kebebasan pers.

Jejakfakta.com, Jakarta -- Proses revisi atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2022 Tentang Penyiaran saat ini tengah berjalan. Draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran 2 Oktober 2023 meluaskan cakupan wilayah penyiaran menjadi bukan hanya penyiaran konvensional seperti TV dan radio, melainkan juga mencakup penyiaran digital.

Sebagai konsekuensi dari perluasan kewenangan KPI, maka platform digital seperti Netflix, Amazon Prime, Vidio, dan platform lainnya harus tunduk pada UU Penyiaran yang baru serta diatur oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Perubahan ini dinilai mengancam kebebasan pers penyiaran dan kreativitas di ruang digital.

Hal ini disampaikan oleh Yovantra Arief, Direktur Eksekutif Remotivi, dalam konferensi pers di Rumah Jurnalisme - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Rabu (24/4/2024) melalui keterangan tertulisnya.

Baca Juga : Pasal-pasal Bermasalah di RUU Penyiaran yang Ancam Kemerdekaan Pers

“Memasukkan platform digital dalam definisi penyiaran membuat konten digital harus patuh pada aturan-aturan yang sama dengan aturan TV konvensional, padahal medium dan teknologinya berbeda. Ini tidak tepat karena platform digital memiliki logika teknologi yang berbeda dengan TV atau radio terestrial,” ujar Yovantra.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pasal 56 ayat 2 yang berisi larangan atas berbagai jenis konten penyiaran, baik konvensional maupun digital. Larangan-larangan ini mencakup tayangan terkait narkoba, perjudian, rokok, alkohol, kekerasan, atau unsur mistik. Beberapa jenis konten yang dilarang pun dinilai multiinterpretasi sehingga rentan untuk digunakan secara semena-mena.

“Larangan-larangan ini berpotensi mengekang hak publik untuk mendapat konten yang beragam. Padahal di platform digital publik memiliki agensi lebih besar untuk memilih dan menyaring tontonan, berbeda dengan penyiaran konvensional. Revisi ini juga memuat larangan atas tayangan yang menampilkan suatu profesi atau tokoh yang memiliki perilaku atau gaya hidup negatif, dan larangan atas rekayasa negatif informasi dan hiburan. Ketentuan ini sangat multitafsir, dan oleh karenanya berpotensi disalahgunakan," tambah Yovantra.

Baca Juga : Dewan Pers Tolak Draf RUU Penyiaran, Berpotensi Mengganggu Kemerdekaan Pers

Mengancam Jurnalisme

Konsekuensi lain dari perluasan dalam revisi UU Penyiaran adalah kewajiban produk jurnalisme penyiaran untuk tunduk pada aturan Komisi Penyiaran Indonesia. Hal ini dinilai dapat menyebabkan tumpang tindih kewenangan, karena selama ini produk jurnalisme diatur dan diawasi oleh Dewan Pers sebagaimana mandat Undang-Undang Pers.

Hal ini disampaikan oleh Bayu Wardhana, Sekretaris Jenderal (Sekjen) AJI Indonesia dalam kesempatan yang sama.

Baca Juga : Dua Media Digugat Perdata, Jurnalis Sulsel Gelar Aksi Damai di PN Makassar

“Pada pasal 42 disebutkan wewenang menangani sengketa jurnalistik hanya oleh KPI. Padahal selama ini kasus sengketa jurnalistik di penyiaran selalu ditangani oleh Dewan Pers. Draft RUU Penyiaran mempunyai tujuan mengambil alih wewenang Dewan Pers dan akan membuat rumit sengketa jurnalistik,” kata Bayu Wardhana.

Selain itu, pada pasal 50B ayat 2 juga terkandung larangan atas penayangan eksklusif jurnalistik investigasi (huruf c). Klausul ini dinilai dapat mengancam kebebasan pers.

“Pasal ini membingungkan. Mengapa ada larangan penayangan eksklusif jurnalistik investigasi? Tersirat ini membatasi agar karya jurnalistik investigasi tidak boleh ditayangkan di penyiaran. Sebuah upaya pembungkaman pers sangat nyata,” ucap Bayu Wardhana.

Baca Juga : Ancaman Kemerdekaan Pers dan Pentingnya Kode Etik

Sikap Masyarakat Sipil

Dilansir dari situs resmi DPR RI, proses revisi UU Penyiaran saat ini sudah ada di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI setelah sebelumnya disempurnakan oleh Komisi I DPR RI. Ubaidillah, Ketua KPI Pusat juga menyatakan bahwa revisi UU Penyiaran ditargetkan selesai pada tahun ini.

"Dari beberapa diskusi, Komisi I menyampaikan bahwa revisi Undang-Undang Penyiaran akan dikejar selesai di periode ini." ujar Ubaidillah dalam keterangan persnya, dilansir dari RRI, Selasa (2/4/2024).

Baca Juga : Laporkan Narasumber Tempo ke Polisi, Menteri Bahlil Mengancam Kemerdekaan Pers

Namun, proses ini dinilai terburu-buru dan tidak transparan. Yovantra mengingatkan bahwa draft RUU ini harus dibahas ulang dengan melibatkan lebih banyak aktor mengingat masih terdapat banyak pasal bermasalah yang berpotensi mematikan kreativitas di ruang digital.

“Tidak bisa asal memasukkan penyiaran digital ke dalam UU Penyiaran, kita harus lihat bagaimana logika teknologi dan industrinya bekerja, supaya tidak malah mematikan industri dan kreativitas. Oleh karenanya RUU ini harus dibahas ulang dengan partisipasi yang lebih luas,” ucap Yovantra.

Bayu Wardhana pun menyatakan bahwa pasal yang mengancam kebebasan pers pun perlu segera dicabut.

“Pasal-pasal yang mengancam kebebasan pers harus dihapus dari draft RUU ini. Jika hendak mengatur karya jurnalistik di penyiaran, sebaiknya merujuk pada UU Pers no 40/1999. Pada konsideran draft RUU ini sama sekali tidak mencantumkan UU Pers," kata Bayu Wardhana.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#UU Penyiaran #Kebebasan Pers #UU Pers #karya jurnalistik #jurnalistik investigasi
Youtube Jejakfakta.com