Jumat, 11 Oktober 2024 08:55

Hari Anak Perempuan Internasional

Save the Children Serukan Pentingnya Kesetaran Hak Pendidikan Anak Perempuan

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Ilustrasi. Seorang Ayah dan Anak Perempuannya sedang bercerita hasil gambar yang dibuatnya. @Jejakfakta/dok. Save the Children Indonesia
Ilustrasi. Seorang Ayah dan Anak Perempuannya sedang bercerita hasil gambar yang dibuatnya. @Jejakfakta/dok. Save the Children Indonesia

Partisipasi sekolah anak perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan anak laki laki.

Jejakfakta.com, JAKARTA -- Hari anak perempuan internasional yang diperingati setiap 11 Oktober, menjadi pengingat seluruh pihak tentang kesetaraan hak pada anak perempuan. Save the Children Indonesia menyerukan pentingnya kesetaraan hak pendidikan khususnya pada anak perempuan.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan, sejumlah fakta menunjukan bahwa anak perempuan masih rentan terhadap berbagai macam bentuk kekerasan termasuk perkawinan anak.

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2024 menyatakan bahwa terdapat 51,78% anak perempuan usia 13 – 17 tahun di Indonesia pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.

Baca Juga : Pemkab Luwu Timur Gelar Pertemuan Panitia HCTS 2025, Targetkan Rekor MURI

“Setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang berkualitas serta lingkungan yang aman. Tantangan ekonomi dan krisis iklim berdampak langsung pada anak perempuan. Dua dari tiga perkawinan anak terjadi di wilayah yang paling terdampak krisis iklim, dan anak perempuan yang kerap menjadi korban. Kita tidak bisa tinggal diam, langkah solutif dan kolaboratif harus dikuatkan," ujar Dessy.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2023, juga menunjukan bahwa partisipasi sekolah anak perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan anak laki laki, misalnya pada kelompok usia 16-18 tahun, sebanyak 75,01% untuk anak perempuan dan 71,9% untuk anak laki-laki. Akan tetapi jadi sebagian Kab/Kota masih menjadi tantangan.

Di Sumba Barat, kata Dessy, angka partisipasi sekolah anak perempuan di kelompok usia 7-12 tahun lebih rendah (93%) daripada anak laki-laki (95%). Hal yang sama terjadi di Surabaya untuk kelompok usia yang sama, angka anak perempuan (96%) lebih rendah daripada anak laki-laki (98%).

Baca Juga : Desa Manunggal Resmi Bentuk PATBM, Jadi Desa ke-50 di Luwu Timur

Sementara, tren yang berbeda namun bersentimen sama terlihat di Bandung. Menurut Dessy, angka partisipasi perempuan pada kelompok usia 7-12 tahun lebih tinggi dari anak laki-laki. Namun angka partisipasi kelompok usia 13-15 tahun untuk perempuan lebih rendah (85%) daripada laki-laki di (88%).

"Hal ini bisa mengindikasikan adanya penurunan prioritas untuk anak perempuan bersekolah ke jenjang lebih tinggi," ujar Dessy.

Sejak tahun 2018, Save the Children Indonesia bersama dengan Procter & Gamble (P&G) mengimplementasikan program We See Equal (WSE) di Jawa Barat, program ini bertujuan untuk membantu menghilangkan hambatan para anak perempuan dan laki-laki dalam meraih kesempatan pendidikan yang setara, serta memberdayakan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang setara, aman, dan positif gender.

Baca Juga : Bimtek Konvensi Hak Anak: PKK Luwu Timur Komitmen Wujudkan Lingkungan Aman bagi Anak

"Salah satu inisiatif utama dari program ini adalah penerapan Modul Choices, yang dirancang untuk mengajarkan anak-anak konsep kesetaraan gender di sekolah," ungkapnya.

Tidak hanya murid, program ini juga mengajak orang tua untuk mendukung kesetaraan dalam pengasuhan dan kesempatan pendidikan, serta mengatasi isu-isu seperti kekerasan, diskriminasi gender, dan perkawinan anak.

"Dengan peran aktif orang tua, diharapkan anak perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, belajar, dan mencapai potensi terbaik mereka, sama seperti anak laki-laki," pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#anak perempuan #Save the Children #kesetaraan hak Pendidikan #perkawinan anak #Pendidikan setara
Youtube Jejakfakta.com