Selasa, 31 Desember 2024 17:54

Tahun Baru

Editor : Redaksi
Abdul Karim, Kolumnis dan Pegiat Demokrasi. @Jejakfakta/Pribadi
Abdul Karim, Kolumnis dan Pegiat Demokrasi. @Jejakfakta/Pribadi

Orang-orang mapan tak mampu menjauhkan diri dari perayaan tahun baru dengan pesta dan kemeriahan, termasuk kemeriahan konsumsi.

Oleh; Abdul Karim (Kolumnis dan Pegiat Demokrasi)

Tahun tak pernah sebenarnya baru. Tanggal juga tak pernah lapuk. Sebab ia adalah siklus tanpa jeda. Ia berputar sebagaimana bumi ini bergerak. Gerakannya tak pernah kita lihat dan tak kunjung kita rasa. Mengapa? Sebab ia tak berwujud. Ia hanya bernama. Bulan satu, bulan dua, bulan tiga dan seterusnya. Tahun sekian dan tahun sekian, dan seterusnya.

Mungkin karena tak berwujudlah, hingga tahun dan tanggal tak dapat dikendalikan oleh mahluk bumi. Lalu, apakah kita yang melaluinya? Ataukah ia yang melalui kita?

Baca Juga : Bupati Yusran Imbau Warga Rayakan Pergantian Tahun dengan Tertib dan Aman

Segala pernak pernik dan ragam perayaan pergantian tahun menandakan kitalah yang melalui tahun dan tanggal itu. Segala pengorbanan material yang kita curahkan dimalam tahun baru menandakan bila kita yang melalui tahun dan tanggal itu.

Padahal, sesungguhnya tahun dan tanggallah yang melalui kita. Tahun dan tanggal memperbaharui dirinya sebagaimana ketentuanNYA. Bukan kita. Itu berarti peradaban keliru telah lama terjadi ditengah kerumun mahluk berakal ini.

Tetapi kita telah lama terlanjur keliru berjamaah. Kembang api, petasan, dan mercon kita tampilkan dengan riang gembira. Itu terjadi disegala lapisan masyarakat kita. Pesta tanpa kelas itu begitu meriah dilangit dan didarat.

Baca Juga : DPRD Sulsel Dorong DJP Sulselbartra Masifkan Sosialisasi Barang Mewah yang Kena PPN 12%

Dilapis bawah, petasan dan kembang api murahan meledak dan terbang ke langit dengan tergopoh-gopoh. Mercon buatan seadanya hanya mengagetkan tikus-tikus disarangnya. Setelah itu, kembali ke rumah dengan segala kelelahan tanpa mendaras pengorbanan.

Sementara dilapis masyarakat atas, mereka tak pantang-pantang merogoh isi rekening tabungan untuk merayakan tahun baru. Tak terbilang rupiahnya demi semalam yang menyebrang. Kaum kota daerah-daerah merental kamar hotel hingga apartemen di kota besar seperti Makassar ini. Konon, apartamen di Makassar telah di booking jauh hari sebelum akhir tahun. Mungkin tak ada bilik apartemen menganggur dimalam tahun baru ini.

Mereka pun tumpah ruah di pusat-pusat belanja seperti mall dan kedai moderen. Di toilet mal tahi dan kencing mereka tumpah. Belanja ini dan itu tak terhindarkan. Pergantian tahun seolah tak sah tanpa itu semua. Perpindahan tahun seakan tak sempurna tanpa itu semua. Tak turut merayakan tahun baru dianggap manusia sampah.

Baca Juga : Tragedi Malam Tahun Baru: Pengacara Rudi S Gani Ditembak Mati di Depan Keluarga

Orang-orang mapan tak mampu menjauhkan diri dari perayaan tahun baru dengan pesta dan kemeriahan, termasuk kemeriahan konsumsi. Sebab apartemen, mall dan tempat-tempat belanja melancarkan diskon untuk mereka yang berdompet tebal. Mereka perang diskon jauh sebelum akhir tahun. Dan kaum mapan pun tergoda dengan itu semua. Mereka berdesak-desakan merebut diskon. Padahal, tahun yang berganti, tanggal yang berubah, sama sekali tak peduli dengan itu semua.

Tapi begitulah. Hasrat raya tahun baru tak kuasa kita cegah. Perbincangan tentang kenaikan PPN 12 persen menguap ditengah pesta raya tahun baru. Dan barangkali itu semua bisa disebut ketandaan kemajuan ekonomi. Apartemen, mal, ledakan petasan bersahutan, kembang api yang menyala diatas sana pertanda PPN 12 persen bukan masalah. Benarkah? Entahlah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Tahun Baru #Pergantian Tahun #kembang api #PPN 12 Persen
Youtube Jejakfakta.com