Selasa, 07 Oktober 2025 13:09

Wali Kota Munafri Luncurkan Gerakan Makassar Bebas Sampah 2029, Targetkan Rumah Tangga Zero Waste pada 2028

Editor : Redaksi
Penulis : Sherine Grace
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan target jangka panjang berupa Makassar Bebas Sampah 2029, dengan pondasi Rumah Tangga Zero Waste tahun 2028, saat kick off program Makassar Eco Circular Hub, Selasa (7/10/2025). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan target jangka panjang berupa Makassar Bebas Sampah 2029, dengan pondasi Rumah Tangga Zero Waste tahun 2028, saat kick off program Makassar Eco Circular Hub, Selasa (7/10/2025). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar

Pengelolaan sampah dari sumbernya, terutama rumah tangga, adalah kunci. Dua tempat sampah untuk organik dan non-organik sudah cukup mengurangi 50% volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar meluncurkan inisiatif ambisius menuju kota bebas sampah melalui program Makassar Eco Circular Hub. Dalam sambutannya pada acara kick off program tersebut, Selasa (7/10/2025), Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan target jangka panjang berupa Makassar Bebas Sampah 2029, dengan pondasi Rumah Tangga Zero Waste tahun 2028.

Munafri, yang akrab disapa Appi, menekankan bahwa upaya pengelolaan sampah harus dilakukan secara kolaboratif dan sistematis, dari hulu ke hilir. “Makassar bisa mencapai zero waste kalau kita semua bergerak bersama, mulai dari rumah tangga dan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan setiap hari,” ujar Munafri di Gedung Lestari 45, Jalan Urip Sumoharjo.

Kegiatan ini digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar bekerja sama dengan Universitas Bosowa (Unibos).

Baca Juga : Wali Kota Makassar Buka Workshop APEC Pengelolaan Kesehatan Anak

Dalam sambutannya, Munafri menyampaikan bahwa keberhasilan mengelola sampah tidak bisa hanya mengandalkan teori atau kampanye, melainkan butuh aksi nyata dari semua pihak — pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

Ia menyebutkan bahwa pengelolaan sampah dari sumbernya, terutama rumah tangga, adalah kunci. Dua tempat sampah untuk organik dan non-organik sudah cukup mengurangi 50% volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Munafri juga mengangkat dua solusi lokal sebagai contoh konkret: budidaya maggot dan produksi eko-enzyme. Menurutnya, satu kilogram maggot dapat mengurai lima kilogram sampah organik, yang sekaligus menghasilkan pakan bernilai jual tinggi. Sementara eko-enzyme bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami yang ramah lingkungan.

Baca Juga : Pemkot Terima Aspirasi Warga, 400 KK Terdampak, PSU Perumahan GMTD Tak Kunjung Diserahkan

“Ini bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi baru,” jelasnya.

Wali Kota juga meminta seluruh RT dan RW mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah organik dan non-organik di wilayah masing-masing sejak tahun ini. Pemerintah akan memfasilitasi penyediaan lubang biopori dan tempat pembuangan komunal khusus sampah organik di kawasan padat penduduk.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi sumber pendapatan keluarga. “Sampah plastik saat ini bisa dijual Rp5.000–Rp6.000/kg. Kalau ada yang mengumpulkan 100 kg, bisa dapat Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per hari,” kata Munafri.

Baca Juga : Padel Qu dan Mye Lounge Resmi Dibuka, Pemkot Makassar Dukung Sport Tourism

Munafri juga memberi peringatan serius terkait kapasitas TPA Makassar. Saat ini, sekitar 290.000 ton dari 388.000 ton sampah per tahun masih berakhir di TPA. Tanpa intervensi cepat, umur pakai TPA diperkirakan hanya dua tahun lagi.

“Alarmnya sudah menyala. Kita tidak bisa hanya diskusi, harus segera bertindak,” tegasnya.

Khusus kepada kalangan akademisi, Munafri menggagas gerakan “Satu Mahasiswa, Satu Pohon” yang mewajibkan setiap mahasiswa baru menanam pohon lokal sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap lingkungan selama masa kuliah.

Baca Juga : PERBANAS Sulsel Salurkan CSR Booth Portable, Munafri Tekankan Pemberdayaan UMKM

Menutup sambutannya, Munafri meminta seluruh jajaran pemerintah — dari camat hingga RT/RW — untuk tidak berhenti pada seminar dan acara seremonial, melainkan memastikan pengelolaan sampah benar-benar diterapkan di lapangan.

“Setelah keluar dari ruangan ini, pastikan tidak ada lagi tempat sampah yang isinya campur aduk,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Makassar Bebas Sampah #Zero Waste 2029 #Munafri Arifuddin #Makassar Eco Circular Hub #pengelolaan sampah #maggot #eko-enzyme #rumah tangga #zero waste #DLH makassar #Lingkungan HIdup #Unibos #kolaborasi lingkungan #Urban Farming #ekonomi sirkular #TPA
Youtube Jejakfakta.com