Jejakfakta.com - MAKASSAR - Di tengah bunyi klakson dan desau angin yang menyapu Jalan Aroepala, sekelompok warga Kompleks Minasa Upa justru menciptakan simfoni yang berbeda: suara sekop menancap tanah dan deru semangat gotong royong. Pada Sabtu (15/11/2025), mereka memilih untuk tak lagi hanya mengeluh. Dengan tangan sendiri, mereka menimbun lubang-lubang besar yang selama ini menjadi biang kemacetan dan kekhawatiran di jalur penghubung Makassar-Gowa.
Jalan itu bukan sekadar aspal retak. Ia adalah urat nadi penghubung kehidupan ribuan warga setiap harinya. Setiap pagi dan sore, lubang yang menganga seperti menguji kesabaran dan keselamatan pengendara. Namun, hari itu, wajah jalan berubah. Pasir demi pasur diangkut, lubang demi lubang ditutup, bukan oleh alat berat pemerintah, melainnya oleh kepedulian warga yang telah lama mengendap.

Di tengah kerumunan warga yang sibuk, sosok Muhlis tampak menonjol. Bukan karena seragam, tapi karena teladan. Sebagai motor penggerak, ia bukanlah nama baru dalam peta kepedulian warga Minasa Upa. Baginya, gotong royong adalah bahasa untuk merajut kembali rasa kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk kota.
Baca Juga : Wali Kota Munafri Tekankan Komitmen Pemkot Peduli Kesetiakawanan Sosial di HKSN ke-76
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Jalan ini dipakai ribuan orang setiap hari. Setiap detik kita diam, risiko kecelakaan dan kemacetan mengintai keluarga kita, tetangga kita,” ujar Muhlis, suaranya lantang menyaingi bising kendaraan yang lalu-lalang.
Aksi sederhana mereka tak luput dari perhatian. Para pengendara yang melintas secara spontan melambat, beberapa memberi senyum, ada yang mengacungkan jempol. Sebuah apresiasi sunyi yang berbicara lebih keras dari sekadar kata-kata. Mereka menyaksikan sendiri, bagaimana kepasrahan berubah menjadi aksi nyata.
Meski menyadari bahwa ini hanyalah solusi darurat, harapan mereka tegas. “Kami berharap dinas terkait segera turun tangan. Apa yang kami lakukan hari ini hanyalah sebuah permohonan yang kami tulis dengan pasir dan keringat. Jalan ini vital, jangan biarkan semangat kami hari ini pupus karena ketidakpedulian,” tutur Muhlis, menyampaikan harapannya sekaligus pesannya.
Baca Juga : Wali Kota Makassar Serukan Camat dan Lurah Perkuat Koordinasi Hingga Tingkat RT/RW
Di atas timbunan pasir sementara itu, tergambar jelas sebuah cerita: bahwa di tengah segala keterbatasan, rasa memiliki dan kepedulian masyarakat masih menjadi “alat berat” yang paling ampuh untuk membangun negeri, dimulai dari satu lubang di jalan mereka sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




