Oleh: Suaib Prawono (Warga Biasa; Korwil GUSDURian Sulampapua)
BANJIR bandang yang melanda Sumatera Utara dan Sumatera Barat baru-baru ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ia adalah alarm keras dari bumi yang lelah.

Lelah karena terus-menerus dieksploitasi tanpa jeda untuk bernapas. Lelah karena manusia, yang seharusnya menjadi penjaga, justru berubah menjadi perusak.
Baca Juga : Tragedi Air Bah di Kalimborang Maros, Dua Wisatawan Ditemukan Tewas
Kita sering kali baru tersadar akan pentingnya menjaga alam ketika bencana datang menyapu rumah, merenggut nyawa, dan menyisakan luka. Padahal, tanda-tanda kerusakan sudah lama terlihat: hutan yang gundul, sungai yang tercemar, dan udara yang kian sesak. Namun semua itu dibiarkan. Kalaupun ada langkah antisipasi, ia sering datang terlambat dan tidak jarang hanya sebatas wacana.
Retorika yang Terlambat
Setiap kali bencana terjadi, suara politisi dan pejabat negara mulai menggema. Mereka datang membawa janji, menggelar konferensi pers, dan menyampaikan belasungkawa. Namun sayangnya, suara-suara itu kerap muncul setelah semuanya porak-poranda. Setelah tangis anak-anak kehilangan orang tua. Setelah petani kehilangan sawahnya. Setelah harapan hanyut bersama arus lumpur.
Baca Juga : BPBD Kota Makassar Selamatkan 13 Warga Terjebak Banjir Bandang di Air Terjun Jeneberang
Retorika tanpa aksi nyata hanya memperdalam jurang ketidakpercayaan. Rakyat mulai lelah. Mereka melihat pemimpin tak lebih dari pajo-pajo—pajangan tanpa makna; hadir, tetapi tak memberi arah.
Lebih menyakitkan lagi ketika bencana justru dijadikan panggung pencitraan. Di balik layar, proyek penghijauan hanya formalitas, sementara izin tambang terus dikeluarkan tanpa kajian lingkungan yang memadai. Pemerintah seolah berkamuflase: tampak peduli, tetapi sejatinya abai.
Jika hal ini terus dibiarkan, bukan hanya alam yang hancur. Bangsa ini pun perlahan akan runtuh—bukan karena gempa, melainkan karena kehilangan integritas. Jauh sebelum semua ini terjadi, musisi legendaris bangsa ini, Iwan Fals, telah bersuara.
Baca Juga : Koalisi Industri Tanpa Polusi Uji Materiil Perpres No. 112 Tahun 2022 di Mahkamah Agung
Dalam lagunya berjudul “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, ia menyindir, “Lestarikan alam hanya celoteh belaka. Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu.” Lagu yang dirilis pada tahun 1982 itu menyisakan sindiran tajam terhadap budaya basa-basi yang tak kunjung berubah menjadi aksi.
Lagu tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan peringatan. Sayangnya, maknanya tak pernah benar-benar terhayati.
Fajar Kesadaran
Baca Juga : Melawan Greenwashing, Ancaman Kapitalisme Hijau terhadap Hutan dan Masyarakat Adat
Namun di balik keputusasaan itu, masih ada secerca harapan yang bisa dirawat. Senjakala eksploitasi alam dapat menjadi awal dari fajar kesadaran. Kita bisa memilih untuk berubah—dari individu, komunitas, hingga negara. Mulai dari hal-hal kecil: menanam pohon, mengurangi sampah plastik, hingga mendesak kebijakan yang berpihak pada lingkungan.
Karena menjaga alam bukan tugas aktivis semata, tetapi tanggung jawab semua kalangan. Sebab ketika alam murka, tak ada satu pun yang bisa berlindung—tak peduli jabatan atau status sosial.
Pada prinsipnya, alam tidak pernah ingkar janji. Justru manusialah, dengan kekuasaan yang dimilikinya, yang kerap mengingkarinya. Mari berhenti mengeksploitasi dan mulai merawat, sebelum bumi benar-benar lelah dan tak lagi memberi kita kesempatan kedua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




