Sabtu, 19 September 2026 17:46

Kisah Aris Sanda, Sopir Toraja yang 13 Tahun Menembus Jalur Wamena-Nduga: "Dia Bawa Kehidupan untuk Kami"

Editor : Editor JF
Aris Sanda korban kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. @jejakfaktacom/Ist.
Aris Sanda korban kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. @jejakfaktacom/Ist.

Kepergian Aris Sanda meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, warga Toraja, dan masyarakat Nduga yang telah merasakan pengabdiannya selama lebih dari satu dekade.

Jejakfakta.com - WAMENA - Selama 13 tahun, Aris Sanda alias Bapak Tasya terus menembus jalur Wamena menuju Nduga yang dipenuhi medan berat demi mengangkut penumpang dan kebutuhan masyarakat pedalaman Papua. Sejak 2013, ia menjadi salah satu sopir yang rutin membawa bahan makanan, kebutuhan pokok, mama-mama yang hendak berjualan, hingga warga yang bepergian antara Wamena dan Nduga.

Bagi warga Nduga, Aris bukan sekadar sopir yang datang untuk mencari nafkah. Selama bertahun-tahun berada di jalur tersebut, ia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada transportasi darat untuk memperoleh makanan, berdagang, bersekolah, dan bepergian. Karena itu, kabar kematiannya pada September 2026 membuat masyarakat setempat ikut berduka.

"Sopir itu bukan musuh. Dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan untuk kami di Nduga," kata warga dalam pernyataan yang disampaikan setelah Aris ditemukan meninggal dunia.

Baca Juga : Dari Toraja ke Bukit Tigapuluh: Tradisi dan Ekosistem Terhimpit Perubahan Zaman

Ucapan tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat melihat peran para sopir yang setiap hari melewati jalur pedalaman. Bagi mereka, kendaraan yang datang dari Wamena bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga beras, makanan, dan berbagai kebutuhan yang sulit diperoleh tanpa perjalanan panjang melewati medan berat.

Tragedi 15 September 2026

Pada 15 September 2026, perjalanan Aris berubah menjadi tragedi. Saat membawa penumpang menuju Mbua, kendaraannya dihentikan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Para penumpang kemudian diperintahkan kembali ke arah Wamena, sedangkan Aris dibawa menuju kawasan Danau Habema. Sehari kemudian, tim keamanan menemukan kendaraan Aris dalam kondisi terbakar bersama jenazahnya.

Baca Juga : Pemuda Toraja Optimis, Mayoritas Warga TORAYA di Makassar Pilih MULIA di Pilwali

Duka Mendalam dari Wamena hingga Toraja

Kepergian Aris tidak hanya menjadi duka bagi keluarganya di Toraja. Ratusan warga Wamena turut mengantarkan jenazahnya menuju Bandara Wamena sebelum dipulangkan ke Makassar, Jumat (18/9/2026). Dari Makassar, jenazah akan dibawa ke Bangkelekila', Toraja Utara, untuk disemayamkan dan dimakamkan bersama keluarga.

Pangkogabwilhan III: Aris Pejuang Logistik Warga Pedalaman

Baca Juga : Bukti Keberagaman Budaya, Tarian Toraja Hadir di Lebaran Depok 2023

Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menyebut Aris sebagai "pejuang logistik bagi warga pedalaman Papua" . Menurutnya, peran sopir seperti Aris sangat vital dalam menjaga kelangsungan hidup masyarakat di wilayah terisolasi, yang bergantung pada pasokan barang dari Wamena.

Kepergian Aris Sanda meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, warga Toraja, dan masyarakat Nduga yang telah merasakan pengabdiannya selama lebih dari satu dekade. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Aris #Nduga #Kelompok Kriminal Bersenjata #Toraja
Youtube Jejakfakta.com