Jejakfaktacom - MAKASSAR - Riuk tepuk tangan dan gemuruh yel-yel politik di ballroom pelantikan DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan mendadak surut, menyisakan keheningan yang menggetarkan.
Di atas panggung, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mengeja kalimat yang tak lagi bicara soal peta perolehan kursi atau strategi perang 2029, melainkan sebuah pengakuan paling jujur seorang suami.

Pandangan IAS tertuju pada barisan depan. Di sana, duduk Aliyah Mustika Ilham berdampingan dengan senior Partai Golkar, Nurdin Halid (NH).
Baca Juga : Penertiban Baliho HUT Golkar ke-62 di Palopo Menuai Sorotan, Bapenda Diminta Tak Tebang Pilih

Aliyah, yang hadir mewakili jajaran pimpinan kota Makassar, mendadak tertegun.
Saat nama dan pengorbanannya disebut oleh sang suami dari atas mimbar, pertahanannya runtuh.
Air mata yang tertahan akhirnya pecah. Berulangkali jemarinya memegang tisu, mengusap lelehan bening di sudut matanya yang kian deras.
Baca Juga : Menkomdigi Meutya Hafid Hadiri Pelantikan Pengurus DPD Golkar Sulsel, Soroti Peran Strategis Daerah
Di samping Nurdin Halid yang menyaksikan dengan tatapan penuh keheningan, Aliyah menunduk menikmati tiap bait rasa terima kasih yang terucap dari lelaki yang telah 34 tahun didampinginya melewati berbagai suka, duka, dan badai pasang surut kehidupan.
Sebuah rentang waktu yang membentuk ikatan pernikahan mereka begitu kukuh.
"Perjalanan panjang ini banyak mengorbankan waktu untuk keluarga... Terima kasih untuk istri saya tercinta. Begitu banyak pengorbanannya. Dia merelakan identitasnya demi warna kuning hari ini, melepaskan pengabdian 10 tahun di DPR RI... Karena bagi dia, untuk suami, segalanya dipersembahkan," tutur IAS dengan suara bergetar dan tatapan dalam.
Baca Juga : Bupati Luwu Harap Golkar Sulsel Perkuat Sinergi Pembangunan dan Ekonomi Daerah
Tak hanya Aliyah yang larut. Ketika IAS menyampaikan rasa terima kasih itu, beberapa pengurus Golkar Sulsel yang duduk berjejer di atas panggung—terutama para pengurus perempuan—juga tak kuasa menahan haru dan ikut menyeka sudut mata mereka.
Dalam lanskap politik yang kerap dingin dan penuh kalkulasi, bulir air mata Aliyah menjelma menjadi momen paling merenyuhkan.
Tisu yang berulang kali menyapu jejak air mata itu menjadi saksi bisu: bahwa di balik megahnya panji kebesaran partai yang kembali dikibarkan IAS, ada jejak langkah seorang perempuan yang bersedia melapangkan dada, mengalah, dan mengikhlaskan mimbar pribadinya demi menopang impian sang suami.
Baca Juga : Penimbunan Lahan Stadion Untia Mulai Tampak, Pemkot Makassar Kebut Pekerjaan Fisik
Selalu begitu! Di balik sosok pria petarung, ada perempuan tangguh yang setia menjadi sandaran, saat kata 'adalah' menjelaskan berbagai kehormatan tiba-tiba berubah menjadi 'hanyalah' yang menerangkan keterpurukan.
Di panggung megah pelantikan itu, Aliyah Mustikalah perempuan itu. Penghormatan tertinggi dari pesta itu, selayaknya ia nikmati!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



