Jejakfakta.com - MAROS - Pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Senin, 2 November 2026, berlangsung dengan dinamika yang tak biasa. Perhatian peserta tersedot pada sikap Bupati Maros Chaidir Syam saat prosesi penyematan passapu, penutup kepala khas Bugis-Makassar, di Town Hall Maros.
Peristiwa itu bermula ketika panitia pelaksana bersiap menyematkan passapu kepada jajaran tamu kehormatan. Rombongan DPD I Golkar Sulsel dipimpin Dr. Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Chaidir hadir mengenakan seragam dinas bupati.

Karena Chaidir dikenal sebagai elite Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel, panitia menyodorkan passapu berwarna biru. Langkah itu dimaksudkan untuk menghargai identitas politik sang bupati sekaligus menghindarkannya dari sorotan miring publik.
Baca Juga : MYL Tinjau Kesiapan Lokasi PLTS Komunal dan Kampung Nelayan Merah Putih di Satanger

Namun, Chaidir menolak halus passapu biru tersebut. Dengan gestur tenang dan santun, ia meminta agar disematkan passapu berwarna kuning, warna kebesaran Golkar, sebagaimana yang dikenakan IAS dan jajaran pengurus partai beringin lainnya. Mahkota adat berwarna kuning itu pun terpasang di kepalanya.
Keputusan spontan Chaidir memukau IAS dan seluruh politisi yang hadir. Bagi IAS, aksi tersebut bukan sekadar soal memilih warna kain, melainkan demonstrasi kepemimpinan yang telah melampaui ego kepartaian.
IAS menilai, di balik selembar passapu kuning itu, Chaidir sadar betul akan peran gandanya: sebagai politisi sekaligus pembina utama seluruh partai politik di Kabupaten Maros. Melalui penolakan halus dan kerelaannya melebur dalam warna tuan rumah, Chaidir dinilai menunjukkan rasa hormat kepada Golkar sekaligus mengirim pesan tentang pentingnya menjaga stabilitas dan kerukunan politik daerah di atas kepentingan personal maupun kelompok.
Baca Juga : Kunjungi Sapuka, Bupati Pangkep Paparkan Program Pembangunan hingga PLTS Komunal
Secara kasatmata, aksi tersebut terlihat sederhana. Namun, langkah Bupati Maros itu dinilai memuat nilai kenegarawanan tingkat tinggi. Banyak kepala daerah terjebak menggunakan posisinya untuk memperkuat dominasi partai asal. Chaidir menunjukkan hal sebaliknya.
Dengan mengenakan passapu kuning di acara Golkar, ia menanggalkan baju partainya sejenak untuk menjalankan fungsi sebagai pengayom dan pembina seluruh kekuatan politik di wilayahnya. Keputusan menyelaraskan diri dengan warna acara disebut sebagai bentuk penghormatan tertinggi seorang kepala daerah kepada tamunya, sekaligus mencairkan ketegangan politik secara elegan.
IAS berharap, jika seluruh kepala daerah memiliki kedewasaan untuk menahan diri dan saling menghargai seperti Chaidir, gesekan antarpolitik di daerah dapat diredam. Sikap itu diharapkan menjadi cetak biru bagi iklim demokrasi yang sejuk di tingkat lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



