Jeddah – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan tiga skema untuk menangani jemaah haji Indonesia khusus lansia saat fase puncak haji, wukuf di Arafah – Muzdalifah – Mina (Armina).
“Menjelang puncak haji di Arafah – Muzdalifah – Mina atau Armina, kita telah siapkan tiga skema penyelenggaraan ibadah, khususnya bagi jemaah haji lansia,” kata Direktur Bina Haji Arsad Hidayat usai sosialisasi dengan para pengurus Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) di Makkah, Selasa (21/6/2023).

Skema pertama menghajikan atau badal haji. Skema berlaku untuk jemaah lansia yang meninggal dunia setelah di embarkasi, saat di pesawat, atau di tanah suci, serta jemaah lansia yang memiliki ketergantungan pada alat dan obat sehingga tidak bisa dimobilisasi.
Baca Juga : Puncak Haji 27 Juni Besok, Jemaah Menuju Arafah
Data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu, saat ini tercatat 99 jemaah haji Indonesia yang meninggal di pesawat, Jeddah, Madinah, dan Makkah.
“Jadi, nantinya akan ada orang yang membadalkan hajinya,” kata Arsad.
Skema kedua disafariwukufkan. Skema ini disiapkan bagi jemaah haji yang sakit dan dirawat, baik di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKIH) ataupun di RS Arab Saudi, dan masih bisa dimobilisasi.
Baca Juga : Update Daftar 10 Jemaah Haji Indonesia yang Meninggal, Total 133 Wafat, 362 Sakit
“Kita akan angkut dengan bus yang sudah dimodifikasi, ada jemaah yang duduk dan baring. Satu dua jam di Arafah kemudian akan kembali ke KKIH atau RSAS,” ujar Arsad.
Skema ketiga disiapkan bagi jemaah lansia yang fisiknya sehat, hanya harus menggunakan kursi roda. Mereka akan tetap dibawa ke Arafah untuk menjalani Wukuf seperti jemaah haji normal lainnya.
“Hanya, kita sedang mempersiapkan skema dengan pihak Syarikah supaya mereka tidak harus mampir di Muzdalifah. Sebab, Muzdalifah itu kan hamparan pasir. Kalau nanti kursi roda turun di sana akan berat mendorongnya,” tutur Arsad.
Baca Juga : Jemaah Haji Indonesia 2023: Terbanyak Lulusan SD, Ibu Rumah Tangga Profesi Mayoritas
“Sedang dibahas bersama Syarikah, skema agar mereka dapat diberangkatkan dari Arafah langsung ke Mina menjelang tengah malam sehingga saat mereka lewat di Muzdalifah pada tengah malam. Mereka mabit lahdzatan atau sebentar di Muzdalifah. Adapun ibadah lontar jumrahnya selama di Mina, agar diwakilkan kepada jemaah yang sehat,” kata Arsad.
Arsad juga menyilakan kepada para jemaah yang akan mengambil inisiatif untuk tidak menginap di tenda Mina, tapi kembali ke hotel. Namun, Arsad mengingatkan bahwa tidak ada layanan katering di hotel. Sebab, katering yang disiapkan pihak muassasah hanya diperuntukkan bagi jemaah yang menginap di Mina.
“Jadi, jemaah yang mengambil pilihan untuk pulang ke hotel pada fase mabit di Mina, mereka harus mencari makan sendiri,” ucapnya.
Baca Juga : Masa Kedatangan Selesai, Total 209.782 Jemaah Haji Indonesia 2023 Berada di Saudi
Arsad menambahkan, Forum Komunikasi KBIHU pada 10 Mei 2023, telah menandatangani komitmen layanan haji ramah lansia. Mereka menegaskan akan mendukung program haji ramah lansia yang saat ini digagas pemerintah. Mereka siap memberikan kemudahan-kemudahan bagi jemaah hajinya, termasuk memberikan fasilitasi para jemaah dalam menunaikan ibadah hajinya.
“Terpenting, KBIHU juga berkomitmen untuk meniadakan aktivitas ibadah sunah bagi jemaah yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Bagi mereka cukup umrah wajib, lalu istirahat, mempersiapkan diri untuk pelaksanaan wukuf. Saya kira itu jauh lebih baik dan positif bagi jemaah haji,” jelas Arsad.(Kemenag RI/PPIH).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




