Ahad, 15 Oktober 2023 22:25

Hamas: Selamat Datang Tentara Israel, Gaza akan Jadi Kuburan Massal Kalian

Brigade Al-Qassam pasukan khusus Hamas. (Foto: aa.com).
Brigade Al-Qassam pasukan khusus Hamas. (Foto: aa.com).

Saat ini sudah lebih dari 1x24 jam setelah Israel menyerukan agar warga sipil mengosongkan Gaza, segera mengungsi ke Gaza bagian selatan jika ingin selamat. Namun, Israel belum melakukan serangan darat.

Gaza, jejakfakta - Pejuang militan Palestina, Hamas, sudah siap menghadapi rencana pendudukan Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza. Hamas siap menumpas pasukan pertahanan Israel (IDF).

Kemarin, Hamas merilis video yang merekam "sambutan" Hamas terhadap pasukan Israel. Bunyinya sebagai berikut:

Selamat datang kepada para tentara Israel yang mau Gaza, kami sangat menyambut kalian.

Baca Juga : Senator AS Desak Amerika Stop Biayai Israel: Sejarah akan Menilai Apakah Kita akan Menghadapi Anak-anak yang Kelaparan

Silakan masuk, maka akan ada tiga pilihan buat kalian. Pertama, Gaza menjadi kuburan massal kalian.

Kedua, kalian akan menjadi tawanan kami.

Ketiga, kalian akan kembali ke tempat kalian dalam kondisi cacat, baik cacat tubuh maupun cacat mental.

Baca Juga : JK Ingatkan Agar Indonesia Tidak Mencontoh Gaya Kepemimpinan Netanyahu

Demikian bunyi sambutan tentaran Al Qassam Hamas.

Muhammad Husein, Warga Negara Indonesia, yang saat ini berada di Jalur Gaza, melaporkan, pasukan Israel belum melakukan serangan darat ke Gaza, khususnya Gaza bagian utara. 

"Operasi darat belum berlangsung, kalaupun berlangsung, itu sudah pasti direspon oleh para pejuang," kata Husein kepada TvOne melalui sambungan telepon, Ahad (15/10/2023) malam.

Baca Juga : Putusan Mahkamah Internasional Gagal Perintahkan Gencatan Senjata

Brigade Al-Qassam Hamas. (Foto: afp).

Saat ini sudah lebih dari 1x24 jam setelah Israel menyerukan agar warga sipil mengosongkan Gaza, segera mengungsi ke Gaza bagian selatan jika ingin selamat. Namun, Israel belum melakukan serangan darat.

Dua kali Israel melempar informasi masa tenggat sejak Jumat (13/10/2023) hingga Sabtu. Pertama ultimatum 1x24 jam, terkahir: selama enam jam. 

Baca Juga : Aktivis Iklim Greta Thunberg: Tidak Ada Seorang Pun yang Boleh Tinggal Diam ketika Genosida Berlangsung

Ultimatum selama enam jam telah selesai, Sabtu (14/10/2023) petang waktu setempat atau pukul 21.00 Wita. Alhasil, mayoritas rakyat Gaza dilaporkan tetap memilih tinggal di Gaza, tanah mereka. Ya, Gaza utara tetap ramai warga sipil.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi basis militer IDF di perbatasan luar Jalur Gaza, Sabtu (14/10/2023). 

Seperti direkam NBC News, dalam kunjungan tersebut, Netanyahu menyambangi para pasukan Israel di sana dan berkata, "Kalian siap untuk tahap selanjutnya? Tahap selanjutnya akan datang."

Baca Juga : Houthi Pantang Menyerah di Laut Merah, Kali Ini Serang Kapal Kargo Militer AS

Netanyahu tidak menerangkan apa maksud "tahap selanjutnya". 

Jumat (13/10/2023) pendudukan Israel mulai menyebar informasi tenggat waktu dengan dalih ingin melancarkan serangan darat, memburu pejuang militan Palestina, Hamas.

Sambil menyuruh 1,1 juta warga mengungsi, pemerintah Israel sibuk mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan militer ke perbatasan untuk mengepung Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan, warga sipil Palestina “yang ingin selamat” harus memperhatikan ultimatum Israel untuk mengungsi ke arah selatan Gaza.

Ismail Haniyeh, pemimpin kelompok militan Palestina Hamas, dalam pidatonya di televisi. mengatakan, warga Palestina tidak akan meninggalkan Gaza atau Tepi Barat dan bermigrasi ke Mesir. 

“Keputusan kami adalah untuk tetap berada di tanah kami,” kata Haniyeh.

Amerika Tambah Kapal Induk

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menambah kelompok penyerang kapal induk untuk membantu sekutunya, Israel, yang hari ini genap sepekan membombardir rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Sabtu (14/10/2023), seorang pejabat senior AS mengatakan kepada ABC News bahwa kelompok penyerang kapal induk USS Eisenhower diperintahkan ke Mediterania timur untuk bergabung dengan kelompok penyerang kapal induk USS Gerald R Ford yang lebih dulu tiba di sana dan berada di perairan internasional lepas pantai Israel.

“Saya telah mengarahkan Kelompok penyerang kapal induk (CSG) USS Dwight D Eisenhower untuk mulai bergerak ke Mediterania Timur,” kata Menteri Pertahanan Lloyd Austin dalam sebuah keterangannya mengonfirmasi pengerahan tersebut. 

“Sebagai bagian dari upaya kami untuk mencegah tindakan permusuhan terhadap Israel atau upaya apa pun untuk memperluas perang ini setelah serangan Hamas terhadap Israel," katanya menambahkan.

Kapal induk Eisenhower meninggalkan Norfolk, Virginia, Sabtu (14/10/2023) pagi menuju ke kawasan Timur Tengah melalui Laut Mediterania.

Para pejabat senior AS mengatakan bahwa kehadiran kelompok penyerang kapal induk USS Ford di Mediterania timur dan penambahan lebih banyak jet tempur Angkatan Udara Amerika ke wilayah tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan komitmen AS terhadap Israel. 

AS juga mempertimbangkan penempatan kapal serbu amfibi USS Bataan lebih dekat ke Israel untuk memberikan dukungan tambahan jika diperlukan. 

Kelompok penyerang Eisenhower mencakup kapal induk USS Eisenhower dan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Philippine Sea (CG-58), serta kapal perusak berpeluru kendali USS Laboon (DDG-58), USS Mason (DDG-87) dan USS Gravely (DDG- 107).

Kelompok penyerang USS Ford tiba di perairan Mediterania timur pada Selasa (10/10/2023) dan termasuk kapal penjelajah USS Normandy (CG 60), serta kapal perusak USS Thomas Hudner (DDG 116), USS Ramage (DDG 61), USS Carney (DDG 64), dan USS Roosevelt (DDG 80).

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, dalam siaran persnya, Ahad (8/10/23), menuduh perjuangan rakyat Palestina yang digawangi militan Hamas sebagai serangan teroris. 

Berbeda dari Amerika dan sekutu Israel lainnya, PBB dan kebanyakan negara menyatakan tindakan Hamas adalah sah, sebagai bentuk perjuangan membela Tanah Air mereka dan penjajag Israel. Hukum internasional pun mengesahkan, bangsa yang terjajah berhak melakukan penyerangan kapan saja terhadap penjajah. 

Menurut Mantan Wakil Dubes Indonesia untuk Mesir, Aji Surya, seperti pengalaman di Perang Arab-Israel 1948, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973, Perang Gaza kali ini akan membuat Israel memperluas wilayahnya dan mungkin mencaplok kembali Jalur Gaza.(ABC News/Republika/TvOne/defense.gov).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Hamas #Jalur Gaza #kapal induk (CSG) USS Dwight D Eisenhower #serangan darat Israel #Ismail Haniyeh #Benjamin Netanyahu #Muhammad Husein #Daniel Levy
Youtube Jejakfakta.com