Oleh: Erizal
Quick count (hitung cepat) Pilpres dan Pileg itu berbeda. Kalau Pilpres, kursi yang diperebutkan cuma satu. Yang memperebutkan cuma tiga. Maka kalau selisih quick count sudah sangat jauh, pemenangnya sudah bisa ditebak. Tak akan berubah lagi. Apalagi situasi aman-aman saja.

Tapi kalau Pileg, tak bisa begitu. Kursi yang diperebutkan banyak. Tingkat I, II, dan Pusat. Tingkat pusat saja, misalnya, ada 585 kursi. Tersebar ke-84 Dapil. Masing-masing Dapil paling sedikit memperebutkan 3 kursi, paling banyak 11 kursi. Hasil quick count, tak bisa otomatis.
Baca Juga : Hasil Quick Count, MYL - ARA Unggul 54% di Pilkada Pangkep
Apalagi dalam perhitungan hasil Pileg, ada istilah kursi gemuk dan kursi kurus. Kursi gemuk, kakinya benar-benar empat. Kursi kurus bisa cuma dua kaki, bahkan satu kaki. Jadi, sama sekali berbeda dengan Pilpres. Kalau quick count Pilpres tak dipercaya, quick count Pileg dipercaya, itu aneh. Sungguh nestapa electoral.
Pileg kemarin, misalnya. Suara Gerindra lebih tinggi dari Golkar, tapi kursi Golkar jauh lebih banyak dari Gerindra. PPP secara kursi tak lolos PT 4%, tapi secara suara lolos. Apalagi di tingkat I dan II, kejadian seperti sering terjadi. Suara 200 ribu bisa jadi sama dengan 100 ribu.
Sama dalam pengertian, sama-sama dapat jatah satu kursi. Meski bedanya bisa dua kali lipat, tapi hasil akhirnya sama alias setara.
Baca Juga : Quick Count JSI: Hati Damai Unggul 53,02 persen di Pilkada Gowa
Jadi, masih terlalu dini menyimpulkan partai A pemenang Pemilu dan partai X dan Z tak lolos PT. Mesti ditunggu perhitungan benar-benar selesai.
Nestapa electoral ini sering terjadi di setiap pemilihan langsung. Hasil quick count tak dipercaya kalau seseorang itu kalah, tapi kalau menang alangkah percayanya ia. Tingkat pendidikan tak berlaku di sini. Sarjana dan Doktor pun bisa terlihat bego sebego-begonya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




