Jejakfakta.com, Makassar -- Ketua Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Sulawesi Selatan, Nurlira Goncing, angkat bicara atas apa yang menimpa sejumlah Petugas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
Seperti diketahui, sejumlah petugas KPPS dan PTPS di Sulawesi Selatan harus mendapat perawatan medis karena diduga kelelahan saat menjalankan tugas di lapangan. Bahkan, ada yang meninggal dunia hingga mengalami keguguran kandungan.

Menurut Nurlira Goncing, seharusnya pihak penyelenggara dan pengawas berkaca pada Pemilu tahun 2019 untuk mengantisipasi terjadinya petugas yang cedera.
Baca Juga : Mahasiswi Unhas Ditemukan Meninggal di Area Kampus, Polisi Lakukan Penyelidikan
"Dengan jatuhnya korban, baik yang jatuh sakit ataupun yang meninggal dunia, pada Pemilu 2024 ini, seharusnya penyelenggara dan pengawas belajar dari pemilu 2019," ujar Nurlira kepada Jejakfakta.com, Senin (19/2/2024).
"Kita juga tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, karena sebagai penyelenggara pemilu harus mengambil tanggung jawab. Oleh karena itu, KPPS dan PTPS jika memang punya riwayat penyakit, janganlah dipaksakan untuk menjadi penyelenggara pemilu," sambung Lira sapaan akrabnya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan sejumlah masalah yang terjadi di lapangan saat hari pencoblosan. Menurutnya, pelaksanaan waktu di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) masih kurang efektif. Akibatnya menimbulkan kegaduhan.
Baca Juga : Lawan Tantangan Algoritma, Vokasi UNHAS dan KPU Selayar Bangun Demokrasi Kreatif Lewat Konten Digital
"Dari hasil pemantauan kami di lapangan ada banyak TPS itu rapih dan telaten cara kerjanya. Meskipun beberapa ada yang telat memulai pembukaan karena saksi telat datang," katanya.
"Tapi ada juga beberapa TPS yang memang lelet memulai bahkan jam 7 pagi masih prepare sehingga banyak warga yang komplain. Setelah saya mengonfirmasi, ternyata menjadi KPPS itu adalah pengalaman pertama mereka," pungkas Lira.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




