Hingga saat ini tercatat korban meninggal akibat gempa yang terjadi di Turki dan Suriah, 6 Februari 2023 lalu, lebih dari 43 ribu jiwa.
Sejumlah negara dan relawan tergerak untuk datang ke Turki membantu penanganan korban gempa di sana, termasuk dari Indonesia, dan salah satunya dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, yang mengirim tim medis.

Mereka tiba di Turki, tepatnya Provinsi Hatay, pada 14 Februari 2023. Salah satu anggota tim medis Unhas, Halik Malik, bercerita tentang perjuangan mereka tiba di lokasi bencana gempa Turki.
Baca Juga : Membanggakan! Belasan Siswa MAN Pinrang Lulus PTN Lewat Jalur UTBK-SNBT 2026
Menurut Halik, tim medis Unhas berangkat dari Indonesia menuju Turki melalui koordinasi Kementerian Luar Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kementerian Kesehatan.
"Jadi untuk saat ini bendera kita bersama tetap Merah Putih dan Garuda yang mana emergency medical tim yang dikerahkan dari berbagai organisasi yang mana sudah terdaftar," ungkap Halik
Tim medis Unhas bersama rombongan relawan Indonesia lainnya langsung membantu pembangunan tenda-tenda darurat. Tenda ini berfungsi untuk lokasi pelayanan kesehatan sekaligus pusat informasi bagi korban terdampak gempa.
Baca Juga : Dies Natalis ke-74 FH Unhas, Munafri Soroti Kekuatan Alumni sebagai Modal Bangun Generasi Masa Depan
"Kita membangun kamp dan sementara terbangun ini rumah sakit lapangan di daerah Hatay tidak jauh dari episentrum gempa Antakya," lanjut Halik.
Mereka tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI telah siap memberikan pelayanan kesehatan bagi korban gempa Turki melalui rumah sakit lapangan yang telah didirikan di wilayah Hatay, Turki.
Tim relawan medis ini membawa perlengkapan yang cukup banyak mengingat kebutuhan yang juga besar. Pemerintah Turki juga meminta tenda-tenda darurat menyediakan pelayanan minimal tipe 2 atau setara rumah sakit lapangan.
Baca Juga : Aliyah Mustika Dorong Unhas Jadi Pelopor Kampus Sehat Lewat Kolaborasi BPJS Kesehatan
"Jadi tidak sekedar melayani pasien yang kebutuhannya primer saja tapi sampai kebutuhan sekunder seperti perawatan, operasi, menolong persalinan sampai pemeriksaan penunjang lainnya misalnya radiologi, USG dan laboratorium apabila memungkinkan," kata Halik.
Ada sekitar puluhan tenda darurat yang didirikan relawan Indonesia. Tenda ini menyediakan pelayanan rumah sakit pada umumnya. Ada pelayanan registrasi, terutama triase atau penilaian kebutuhan dari korban apakah bersifat emergency sehingga langsung di tangani di tenda UGD.
"Yang membutuhkan tindakan operasi misalkan operasi tulang bisa langsung ditangani karena kita memang sudah komplit. Ada dokter ahli bedah tulang, dokter anastesi untuk bius, dokter penunjang radiologi, perawat-perawat kamar operasi dan penata anastesi untuk pelayanan operasi yang besar pun masih bisa dilakukan," kata Halik.
Baca Juga : ASN Makassar Ditantang Menulis Buku, Munafri Ingin Literasi Jadi Gerakan Bersama
Turki merupakan negara di Timur Tengah yang berdekatan dengan daerah-daerah konflik. Namun menurut pengamatan Halik, situasi di sana cukup kondusif.
Menurutnya, hal itu didukung dengan kedekatan bilateral antara Turki dengan Indonesia yang cukup erat. Karena itu, kedatangan tim bantuan dari Indonesia disambut cukup positif oleh pemerintah Turki.
"Pemerintah Turki juga berkali-kali mengirimkan tim dari negaranya sewaktu tsunami Aceh, gempa Palu, itu tim Turki juga sampai ke negara kita. Saat ini ketika gempa di Turki, ketika bantuan dari Indonesia maka itu disambut sangat positif," katanya.
Baca Juga : Wawali Aliyah Mustika Ilham Sebut Literasi dan Ekonomi Kreatif Harus Tumbuh Bersama
Misalnya ketika Pemerintah Turki berinisiatif memberikan tempat khusus bagi tim Indonesia untuk memberikan pelayanan rumah sakit lapangan. Dengan begitu, Halik menilai kondisi Turki sejauh ini cukup aman apalagi pemerintah setempat memberikan dukungan berupa personil keamanan bersenjata untuk mengawal area kamp relawan dan rumah sakit lapangan.
"Kira-kira ada 20 petugas keamanan bersenjata yang berpatroli secara bergantian dari pagi sampai malam, dalam kondisi cuaca yang sangat dingin di suhu antara 1-2 derajat," ujar Halik. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




