Jejakfakta.com – Selawat, dalam KBBI, berarti doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw, berserta keluarga dan sahabatnya. Hari Jumat merupakan waktu yang paling dianjurkan untuk memperbanyak selawat.
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS Al Ahzab: 56).

Ada banyak macam bacaan selawat. Ada yang panjang ada pendek seperti berikut ini:
Baca Juga : Wali Kota Makassar Ajak Jamaah Teladani Karakter Sosial dan Kepemimpinan Nabi SAW di Maulid Akbar
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad
Artinya:
"Ya, Allah. Beri-lah selawat (sanjungan) kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW."
Baca Juga : Ketika Nabi Tenangkan Pohon Kurma yang Menangis
Anda juga dapat membaca selawat yang lebih utama seperti bacaan tahiyat akhir dalam salat, yaitu selawat Ibrahimiyah:
"Allahumma shalli 'alaa Muhammad, wa 'alaa aali Muhammad, kamaa sollaita 'alaa aali Ibraahim, wa baarik 'alaa Muhammad, wa 'alaa aali Muhammad, kamaa baarakta 'alaa aali Ibraahim, fil 'aalamiina innaka hamiidummajiid."
Artinya:
Baca Juga : Kebiasaan Mantan Gubernur Sulsel Amin Syam yang Meninggal Jumat
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung."
Melansir NUOnline, Imam Sufyan At-Tsauri bercerita bahwa ketika sedang melakukan ibadah tawaf bersama ayahnya ia melihat seseorang yang hanya duduk berdiam. Ia tidak ikut tawaf bersama mereka yang tawaf. Tetapi, uniknya ia banyak membaca selawat nabi.
"Wahai Tuan, Tuan telah meninggalkan tasbih dan tahlil. Tuan hanya membaca selawat. Ada apa dengan tuan?" tegur Imam Sufyan At-Tsauri kepada pria yang hanya duduk membaca selawat.
Baca Juga : JK: Bekerja Lebih Keras untuk Meningkatkan Kesejahteraan
"Anda ini siapa? Semoga Allah mengafiatkanmu," tanya balik pria asing tersebut.
"Saya Sufyan At-Tsauri."
"Sekiranya kau tidak gharib di tengah orang hari ini, niscaya kukabarkan tentang diriku dan kubuka rahasiaku," kata pria tersebut.
Baca Juga : Jejak Puluhan Sahabat Nabi selain 4 Khalifah Pertama
Percakapan selesai. Sufyan At-Tsauri meninggalkan pria tersebut. Ia dan ayahnya kemudian melanjutkan aktivitas ibadah haji.
Keduanya terus merampungkan rangkaian ibadah haji hingga sampai di satu titik ayahnya jatuh sakit. Kesehatannya menurun tajam.
Sufyan At-Tsauri berusaha keras untuk mengobati ayahnya yang sudah tua. Ia duduk di sisi kepala ayahnya. Tetapi ayahnya tidak tertolong. Ayahnya meninggal dunia. Tetapi betapa sedihnya Sufyan At-Tsauri ketika wafat wajah ayahnya menghitam.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ayahku telah wafat dan wajahnya menghitam," kata Sufyan At-Tsauri.
Ia kemudian menarik ke atas kain yang dikenakan ayahnya sehingga kain tersebut menutupi wajah ayahnya.
Sufyan At-Tsauri terserang ngantuk yang hebat. Ia pun tertidur.
Ia bermimpi melihat seorang laki-laki yang sangat tampan, berpakaian sangat bersih, dan beraroma sangat harum.
Laki-laki ini melangkah mendekati ayah Sufyan At-Tsauri yang tengah disemayamkan sebelum dimakamkan. Ia membuka kain yang menutupi wajah almarhum dan kemudian mengusapnya. Seketika wajah almarhum yang menghitam berubah kembali putih cerah.
Ketika hendak meninggalkan persemayaman almarhum, Sufyan At-Tsauri memegang ujung baju pria tersebut.
"Tuan ini siapa? Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu. Allah telah mengaruniakan anugerah-Nya kepada ayahku melalui tangan tuan di tanah yang asing ini," tanya Sufyan At-Tsauri.
"Aku Muhammad bin Abdullah, shahibul Qur’an. Ayahmu termasuk orang yang melewati batas terhadap dirinya. Tetapi ia memang orang yang banyak membaca selawat kepadaku. Ketika kesulitan alam kubur menderanya, ia meminta tolong kepadaku. Aku adalah penolong orang-orang yang banyak membaca selawat kepadaku," jawab laki-laki tersebut.
"Aku pun terjaga dari tidurku. Dan aku senang mendapati wajah ayahku kembali putih," kata Sufyan At-Tsauri.
Riwayat ini bersumber dari kitab Kifayatul Atqiya karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, (Indonesia, Haramain: tanpa catatan tahun), halaman 119. Wallahu a’lam. (ile/Alhafiz Kurniawan/NUOnline)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




