Gaza, jejakfakta - Badan kemanusiaan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 338.000 orang di Gaza terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pemboman besar-besaran oleh Israel yang terus menghantam daerah kantong Palestina.
“Pengungsian massal di Jalur Gaza terus berlanjut,” kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) dalam dalam sebuah pernyataan Kamis (12/10/2023) dikutip dari Al Arabiya.

Pasukan pendudukan Israel membombardir Jalur Gaza sejak Sabtu (7/10/2023) hingga saat ini. Lebih 1.000 warga Palestina tewas akibat invasi zionis ini.
Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina
Hingga Rabu malam, jumlah pengungsi di Gaza mengalami lompatan sebanyak sebanyak 75.000 orang dari angka yang diberikan 24 jam sebelumnya. Jadi, total mencapai 338.934 orang pengungsi hingga saat ini.
OCHA mengatakan hampir 220.000 orang, atau dua pertiga dari pengungsi, mencari perlindungan di sekolah-sekolah yang dikelola oleh badan PBB yang mendukung pengungsi Palestina, UNRWA.
Hampir 15.000 orang lainnya mengungsi ke sekolah-sekolah yang dikelola oleh Otoritas Palestina, sementara lebih dari 100.000 orang dilindungi oleh kerabat, tetangga dan fasilitas lainnya di Kota Gaza.
Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen
OCHA mengatakan sekitar 3.000 orang telah mengungsi di wilayah kantong tersebut sebelum serangan hari Sabtu (7/10/2023).
Pengeboman oleh Israel telah menghancurkan sedikitnya 2.540 unit rumah di Gaza, kata OCHA mengutip data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Gaza. Sebanyak 22.850 unit rumah lainnya mengalami kerusakan sedang hingga ringan, kata PBB.
Bom Beracun Fosfor Putih
Baca Juga : Aktivis Iklim Greta Thunberg: Tidak Ada Seorang Pun yang Boleh Tinggal Diam ketika Genosida Berlangsung
Kesaksian jurnalis yang dihimpun oleh Middle East Eye juga mengungkapkan, pasukan pendudukan Israel menjatuhkan bom pembakar beracun fosfor putih ke daerah padat penduduk Gaza, Palestina.
Para wartawan menemukan Israel mengebom dengan fosfor putih di dekat Hotel Roots dekat pelabuhan Gaza pada Rabu (11/10/2023) pagi. Saksi mata berusaha memadamkan api fosfor yang menyala di tanah dengan mencoba meletakkan pasir di atasnya.
Youmna el Sayed, koresponden Al-Jazeera, terkena asap bom fosfor Israel. Dia mengaku terganggu setelah bom tersebut dijatuhkan ke Gaza. Youmna mengalami gatal di tenggorokan, dada dan matanya gatal sesaat setelah dia memasuki area tersebut.
Baca Juga : Media Israel: Bersiaplah Perang Saudara
Di wilayah padat penduduk Al-Karama, Gaza, menurut saksi mata, Israel memakai pesawat tempur dan unit artileri yang menjatuhkan sekitar 100 bom di kawasan tersebut saat warga masih berada di dalam rumah.
Serangan-serangan tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa. Reporter Middle East Eye berada di tempat kejadian, menyaksikan mayat-mayat yang tidak dikumpulkan tergeletak di jalan pada Rabu (11/10/2023) pagi, sekitar 12 jam setelah serangan pertama dimulai di daerah itu.
“Itu adalah pemboman yang keji dan tanpa pandang bulu tanpa peringatan,” kata Abdelaziz Helo, seorang warga yang selamat dari pemboman tersebut, kepada Middle East Eye.
Baca Juga : Menlu Retno Marsudi Suarakan Palestina di Markas HAM PBB
"Orang-orang sedang berada di dalam rumah mereka histeris ketika bom mulai menghujani daerah tersebut. Hal itu membawa kobaran api. Perempuan, anak-anak, laki-laki, semua tak dapat bergerak untuk meninggalkan daerah tersebut," katanya.
Menurut data MEE yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Palestina, serangan Israel ke Gaza sejak pekan lalu sudah menewaskan 1.055 warga Palestina.
Kantor berita Palestina, WAFA, memberitakan pasukan Israel menjatuhkan bom fosfor dalam serangan ke Jalur Gaza pada Selasa (10/10/2023) malam.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Palestina menyatakan, Israel menyerang dengan memakai bom fosfor putih ke wilayah pada penduduk Al Karama.
"[Pasukan] pendudukan Israel sedang menggunakan bom fosfor putih yang dilarang secara internasional terhadap warga Palestina di area Karama di Gaza bagian utara," kata Kementerian Luar Negeri Palestina dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (11/10/2023).
Rami Abdo, pendiri Observatorium Eropa untuk Hak Asasi Manusia, memosting video di X tentang Israel menyerang Gaza dengan zat beracun tersebut.
“Pasukan militer Israel menggunakan [bom] fosfor putih beracun di daerah padat penduduk di barat laut Kota Gaza,” kata Rami Abdo.
Majelis Umum PBB, pada tahun 1972, mengeluarkan resolusi yang menyatakan senjata pembakar sebagai kategori senjata menakutkan.
"Senjata pembakar adalah amunisi yang dirancang untuk membakar benda atau menyebabkan luka bakar atau cedera pernapasan pada manusia melalui aksi api, panas, atau kombinasi keduanya, yang dihasilkan dari reaksi kimia sebuah zat yang mudah terbakar seperti napalm atau fosfor putih," kata PBB.
Pada tahun 1980, dunia sepakat untuk melarang senjata tertentu yang dapat membakar sesuatu dan menyebabkan terlalu banyak penderitaan atau kerugian bagi warga sipil.
Sekutu Israel, Amerika Serikat tercatat pernah menggunakan fosfor putih saat menyerang Irak.
Israel sendiri memakai fosfor putih saat memerangi Hizbullah selama Perang Lebanon tahun 2006. Israel juga dituduh menggunakan fosfor putih selama menyerang Gaza tahun 2008-2009.
Melansir dari NDTV, reaksi kimia dari fosfor putih menghasilkan panas dahsyat 810 derajat Celcius cahaya dan asap putih tebal.
Fosfor putih dapat menyebabkan kebakaran permukaan tanah secara cepat. Zat ini sangat sulit untuk dipadamkan karena menempel pada banyak permukaan, termasuk kulit dan pakaian.
Paparan fosfor putih dapat menyebabkan luka bakar parah karena menembus ke dalam jaringan hingga ke tulang, setelah perawatan pun dapat kembali membakar.
Selain terus menggempur, Israel yang dibantu oleh sekutunya, Amerika Serikat, mengepung Gaza dan melarang segala bantuan masuk Gaza.
Israel, sejak Sabtu pekan lalu, juga memutus listrik, bahan bakar, dan air untuk rakyat Gaza.
Dengan begitu, jumlah korban tewas di Gaza akibat kekejaman Israel diperkirakan akan bertambah.
Israel menyerang Palestina di Gaza dengan alasan perang untuk membalas serangan pejuang militan Palestina, Hamas. Padahal, hukum internasional mengesahkan bangsa terjajah berhak menyerang penjajah kapan saja.
Gaza yang berpenduduk 2,3 juta jiwa diblokade oleh Israel sejak tahun 2007. Seiring blokade, militer Israel menyiksa, menahan, dan membunuh rakyat Gaza.
Israel sudah lebih setengah abad menjajah Palestina. Dan, makin ke muka, peta Palestina makin susut akibat pendudukan Israel. (Al Arabiya/Middle East Eye/WAFA/Anadolu Agency/NDTV/Aljazeera).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




