Daniel Levy, dalam BBC, Rabu (11/10/2023), mengatakan, pemerintah pendudukan Israel menggunakan kebohongan tingkat tinggi untuk menyerang warga Palestina di Jalur Gaza.
Daniel Levy adalah mantan penasihat senior Perdana Menteri Israel yang kini menjabat sebagai kepala Proyek Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut Levy, alasan serangan udara Israel di Gaza sejak Sabtu (7/10/2023) hingga saat ini, yang bertujuan melenyapkan Hamas, bohong besar. Sebab, kata Levy, serangan udara Israel nyata menewaskan banyak warga sipil dan menghancurkan tempat tinggal di Gaza.
Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina
Levy mengungkapkan, tidak pernah ada dalam catatan sejarah bahwa orang-orang yang terkurung dan tidak mendapatkan hak dasar mereka justru diserang dengan kekuatan penuh.
“Apakah Anda benar-benar bersikap jujur saat mengatakan itu? Menurut Anda, apakah organisasi teroris yang tertanam dalam masyarakat yang tidak mendapatkan hak-hak dasar mereka akan diakhiri dengan kampanye militer? Apakah itu terjadi dalam sejarah?" kata Levy.
Levy menyatakan, langkah Pemerintah Israel menyerang Gaza, memblokade Gaza dengan mengepung, memutus aliran air, listrik, medis dan makanan ke Gaza secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa Israel tidak menargetkan pejuang Hamas. Terputusnya kebutuhan dasar akan berdampak kepada warga sipil dan mengancam krisis kemanusiaan.
Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen
“Dapatkah seseorang dengan kredibel mengatakan kepada saya bahwa ketika pemimpin suatu negara mengatakan, 'Kami memutus makanan, listrik, air, semua pasokan untuk seluruh penduduk sipil,’ maka mereka menargetkan militan?" kata Levy.
Levy mengatakan, kebohongan yang dibuat Pemerintah Israel untuk membenarkan perang harus dihentikan. Jika pemerintah terus berbohong maka negara akan mengarah kepada kebijakan yang salah.
“Saya minta maaf, kebohongan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dan jika Anda berbohong pada diri sendiri, hal itu akan mengarah pada kebijakan yang salah," ujar Levy.
Baca Juga : Jusuf Kalla: Genosida adalah Kejahatan Kemanusiaan, Bukan Urusan Internal Semata

Dalam wawancara tersebut, BBC menegaskan kepada Levy bahwa komunitas internasional mempercayai klaim yang dilontarkan Pemerintah Israel. Levy kemudian menyerukan kepada dunia internasional agar menentang segala bentuk kebohongan atau hoaks yang beredar seputar konflik Israel-Palestina.
"Orang-orang perlu menentang mereka karena hal itu bohong, dan kita akan menjadi penghasut perang jika kita membiarkan mereka lolos begitu saja," kata Levy.
Presiden AS Sebar Hoax
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden ikut menyebarkan kabar bohong (hoax) tentang pemenggalan anak-anak Israel dan menyalahkan media dan juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan lanjutan, juru bicara Gedung Putih akhirnya mengakui Biden dan pejabat AS lainnya belum melihat atau secara independen mengonfirmasi bahwa Hamas memenggal anak-anak Israel.
Juru bicara militer Israel pun akhirnya angkat bicara. Dia menyatakan, tentara Israel tidak memiliki informasi yang mengkonfirmasi tuduhan bahwa Hamas memenggal kepala bayi.
Baca Juga : Putusan Mahkamah Internasional Gagal Perintahkan Gencatan Senjata
“Kami telah melihat beritanya, tapi kami belum memiliki rincian atau konfirmasi mengenai hal itu,” kata juru bicara tersebut.
Hamas telah menolak klaim palsu oleh beberapa media Barat yang menuduh pejuang Hamas membunuh atau memenggal kepala anak-anak dan menargetkan warga sipil. Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (11/10/2023) Hamas mengutuk propaganda pendudukan Israel yang penuh dengan kebohongan dan rekayasa.
Hamas mengatakan, propaganda Israel itu sebagai upaya untuk menutupi kejahatan dan pembantaian yang dilakukan oleh pendudukan Israel sepanjang waktu. Sebagian besar kejahatan yang dilakukan Israel merupakan kejahatan perang dan genosida.
“Pejuang kemerdekaan Palestina menargetkan pos dan pangkalan militer dan keamanan pendudukan Israel, yang semuanya merupakan target yang sah," ujar pernyataan Hamas, dilaporkan Middle East Monitor.
Para pejuang Palestina berusaha menghindari sasaran terhadap warga sipil. Hal ini dapat dibuktikan melalui kesaksian seorang warga Israel di televisi yang menceritakan bahwa pejuang Hamas telah memperlakukan mereka dengan baik. Hamas menyesalkan media arus utama Barat yang gagal melaporkan kejahatan perang dan genosida yang dilakukan oleh pendudukan Israel, tanpa pandang bulu. (*)
Artikel ini telah tayang di Republika Jumat (13/10/2023): Eks Pejabat Israel: Pemerintah Israel Gunakan Kebohongan untuk Membenarkan Perang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




