Gaza - Ultimatum militer Israel (IDF) kepada warga sipil untuk meninggalkan Jalur Gaza, Palestina, selama enam jam telah selesai, Sabtu (14/10/2023) petang waktu setempat atau pukul 21.00 Wita. Mayoritas rakyat Gaza dilaporkan tetap berada di Gaza, tanah mereka.
Beredar video yang mereka Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi basis militer IDF di luar Jalur Gaza, Sabtu (14/10/2023).

Seperti direkam NBC News, dalam kunjungan tersebut, Netanyahu menyambangi para pasukan Israel di sana dan berkata, "Kalian siap untuk tahap selanjutnya? Tahap selanjutnya akan datang."
Baca Juga : DMI Salurkan Makanan Siap Saji dan Air Bersih untuk Pengungsi Palestina di Gaza
Netanyahu tidak menerangkan apa maksud "tahap selanjutnya".

Jumat (13/10/2023) pendudukan Israel mulai menyebar informasi tenggat waktu dengan dalih ingin melancarkan serangan darat, memburu pejuang militan Palestina, Hamas.
Baca Juga : Serangan Israel di Bulan Ramadhan, Pembangunan Masjid Semi Permanen di Palestina Terhenti
Sambil menyuruh 1,1 juta warga mengungsi, meninggalkan Gaza utara, Israel sibuk mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan militer ke perbatasan untuk mengepung Gaza.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan, warga sipil Palestina “yang ingin selamat” harus memperhatikan ultimatum Israel untuk mengungsi ke arah selatan Gaza.
Alhasil, ultimatum Israel tinggal ultimatum, kebanyakan warga tetap memilih di bumi mereka, Gaza.
Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina
Ismail Haniyeh, pemimpin kelompok militan Palestina Hamas, dalam pidatonya di televisi. mengatakan, warga Palestina tidak akan meninggalkan Gaza atau Tepi Barat dan bermigrasi ke Mesir.
“Keputusan kami adalah untuk tetap berada di tanah kami,” kata Haniyeh.
Sejak Sabtu (7/10/2023) siang Israel menginvasi Gaza lewat udara hingga hari ini. Lebih 1.900 warga di Gaza tewas, sebagian besar warga sipil dan 600 di antaranya adalah anak-anak. Belum termasuk korban tewas di balik ribuan bangunan yang runtuh akibat dibombardir Israel.
Baca Juga : Indonesia Sambut Gencatan Senjata Gaza, Dorong Perdamaian Berkelanjutan
Bantai Pengungsi Gaza
Sudah bukan rahasia lagi, klaim Israel menggempur Gaza karena hanya menargetkan Hamas, adalah bohong besar. Nyatanya, saat ini pendudukan Israel membantai masyarakat sipil dan berusaha merampas bumi Gaza.
Jumat (13/10/2023), Israel mengultimatum warga di utara Gaza untuk mengungsi ke selatan. Saat sebagian menjalani pengusiran paksa tersebut, rakyat Gaza dibom dengan brutal dalam kendaraan yang mereka gunakan mengungsi.
Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen
Dilaporkan berbagai media Palestina, puluhan orang, terutama perempuan dan anak-anak, tewas dalam beberapa serangan udara Israel di jalan utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan. Mereka yang gugur diketahui sedang melaksanakan perintah Israel untuk meninggalkan rumah mereka.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 70 orang gugur dalam tiga serangan udara terpisah di jalan raya, dengan serangan terbaru yang menewaskan sedikitnya 40 orang.
Tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat bahwa warga sipil harus meninggalkan Kota Gaza di utara, dan bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk kembali “sampai kami membolehkannya” dan sampai “sebuah pernyataan dikeluarkan yang mengizinkan hal ini”.
Namun, penduduk setempat telah melaporkan sejumlah serangan di Jalan Salah al-Din sejak saat itu. Para penyintas, saat berbicara kepada media lokal, memohon agar warga lainnya tidak melakukan perjalanan tersebut karena takut menjadi sasaran tentara Israel.
“Jangan pergi,” kata seorang penyintas serangan kepada media lokal seperti dilansir Middle East Eye (MEE). “Mereka mengebom konvoi tersebut. Mereka mengebomnya di Jalan Salah al-Din. Mereka mengebom ambulans.”
Korban selamat lainnya mengatakan serangan itu merupakan “target langsung terhadap perempuan dan anak-anak”.
"Saya berada di dalam truk. Ada sekitar 200 orang, 90 persennya adalah perempuan dan anak-anak. Kami mengambil jalan utama yang diketahui seluruh dunia. Seluruh keluarga saya bersama saya. Entah dari mana, mereka menjatuhkan bom. Semuanya gelap dan saya pingsan selama 10 menit," kata mereka kepada media lokal.
“Saat saya bangun saya melihat seorang ibu terbaring bersama bayinya, yang otaknya berada tepat di sebelahnya. Saya mendengar suara ambulans lalu mereka mengebom lagi. Saya berlindung dan setelah beberapa menit mencoba memeriksa kerusakan, lalu mereka mengebom lagi."
Warga Palestina dari utara Gaza telah menjadi pengungsi dalam beberapa hari terakhir akibat kampanye pemboman Israel.
Koresponden MEE, Maha Hussaini, telah meninggalkan rumahnya di utara menyusul perintah pemindahan paksa. Reporter MEE lainnya di lapangan mengatakan bahwa saat ini "seperti Nakba kedua" atau bencana dalam bahasa Arab, dan "banyak keluarga sekarang meninggalkan rumah mereka".
PBB meminta Israel untuk membatalkan perintah evakuasi. “Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap gerakan seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa konsekuensi kemanusiaan yang buruk,” kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan tegas meminta agar perintah semacam itu, jika memang benar, dibatalkan, untuk menghindari hal yang dapat mengubah situasi yang sudah menjadi tragedi menjadi situasi yang membawa malapetaka.”
Jumat (13/10/2023), pejabat Hamas menyerukan kepada penduduk Jalur Gaza untuk tetap tinggal di rumah di tanah mereka di Gaza. Seruan Hamas menentang seruan militer Israel agar lebih dari satu juta warga sipil pindah ke selatan dalam waktu 24 jam.
Seruan Hamas disampaikan melalui pengumuman di masjid. Masjid-masjid yang berada di Gaza menyiarkan pesan: "Pertahankan rumahmu. Pertahankan tanahmu."
Hamas yang memimpin wilayah Gaza selama ini menggambarkan perintah evakuasi Israel sebagai disinformasi yang dirancang untuk menyebarkan kepanikan dan memfasilitasi rencana Israel untuk menyerang dan menghancurkan kelompok militan Hamas.
Nakba kedua
Ancaman invasi darat Israel telah memunculkan gambaran Nakba yang mengacu pada perang pada 1948 yang menyebabkan perampasan massal wilayah Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di Amman, bahwa dia juga menolak pemindahan paksa warga Palestina di Gaza. Dia mengatakan kejadian seperti itu akan menjadi Nakba kedua.
Pada 1948, sedikitnya 700 ribu orang dipaksa mengungsi dan dirampas tanahnya oleh Israel. Jumah itu telah beranak pinak menjadi jutaan orang di pengungsian di Palestina dan negara tetangga seperti Lebanon. Sampai sekarang, meski sebagian masih memegang kunci rumah dan sertifikat tanah, mereka tak diberi hak pulang.
Analis Gaza Talal Okal menggambarkan perintah relokasi Israel sebagai upaya untuk mendorong rakyat Palestina di Gaza ke dalam Nakba.
“Seperti yang mereka lakukan pada 1948 ketika mereka mengusir orang-orang dari Palestina yang bersejarah dengan menjatuhkan barel bahan peledak ke kepala mereka, hari ini Israel mengulangi hal yang sama di depan mata dunia dan kamera langsung,” kata Okal.(NBC News/Al Arabiya, Republika, MEE, BBC, dan berbagai sumber).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




