Ahad, 10 Desember 2023 07:15

Palestina 17.674 Tewas, Tentara Israel Menceret Berjamaah dan Sakit Menggigil

Tentara Israel di Gaza belum lama ini dievakuasi ke helikopter untuk dibawa ke rumah sakit wilayah pendudukan Israel.
Tentara Israel di Gaza belum lama ini dievakuasi ke helikopter untuk dibawa ke rumah sakit wilayah pendudukan Israel.

Dokter Brosh mengatakan, merebaknya penyakit di kalangan tentara Israel berdampak pada kondisi prajurit dan pelaksanaan operasi tempur. “Jika infeksi menyebar di antara 10 tentara di kompi infanteri, dan mereka mengalami demam setelah suhu tubuh mencapai 40 derajat Celcius, dan mereka mulai mengalami diare setiap 20 menit, maka mereka tidak lagi sehat untuk berperang dan mereka membuat diri mereka terkena risiko kematian."

Ramallah - Kementerian Kesehatan di Gaza, Sabtu (9/12/2023), menyampaikan data terbaru korban serangan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat melonjak menjadi sedikitnya 17.674 orang tewas dan lebih dari 49.300 korban luka. Kurang lebih 7000 korban tewas di antaranya adalah anak-anak.

Kementerian dalam pernyataan seperti diberitakan WAFA Agency, jumlah korban di Jalur Gaza telah mencapai 17.400 orang, sementara jumlah korban tewas di Tepi Barat juga melonjak menjadi 274 orang. Selain itu, tercatat 46.000 warga Palestina terluka di Gaza, dan hampir 3.300 lainnya di Tepi Barat. 

Kementerian melaporkan bahwa setidaknya 300 warga sipil terbunuh pada hari Jumat (8/12/2023) saja di tengah pemboman tanpa henti Israel di Jalur Gaza yang terkepung. 

Baca Juga : Aktivis Iklim Greta Thunberg: Tidak Ada Seorang Pun yang Boleh Tinggal Diam ketika Genosida Berlangsung

Kementerian tersebut menjelaskan bahwa sektor kesehatan di Gaza sedang menghadapi krisis yang parah, karena 55 ambulans tidak dapat digunakan lagi, dan puluhan pusat kesehatan telah berhenti beroperasi karena pemboman yang terus menerus dan kekurangan bahan bakar. 

Menurut Kemenkes Gaza, terdapat peningkatan signifikan penyakit menular di tempat penampungan UNRWA di wilayah selatan, termasuk kasus diare, infeksi pernafasan akut, radang kulit, dan penyebaran penyakit seperti Hepatitis A.

Kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, korban luka, dan perempuan hamil, menghadapi kondisi kehidupan yang menantang. 

Baca Juga : Menlu Retno Marsudi Suarakan Palestina di Markas HAM PBB

Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa lebih dari 60 persen rumah di Gaza telah hancur, termasuk lebih dari 56.000 unit hancur total dan 224.000 unit hancur sebagian. 

Penghitungan akhir unit dan bangunan yang hancur masih belum tersedia karena serangan udara Israel yang sedang berlangsung. Menurut pernyataan itu, ada kecenderungan pasukan pendudukan Israel menargetkan rumah sakit, pusat kesehatan, ambulans, dan tim medis di Tepi Barat. 

“Pendudukan telah meningkatkan serangan terhadap rumah sakit, mengepung dan menggerebek rumah sakit, serta menyerang ambulans dan menahan korban luka," katanya.

Baca Juga : Pasukan Israel Telanjangi Warga Sipil Gaza di Muka Umum

Serangan Israel terhadap pemukim terus berlanjut dengan 308 insiden tercatat sejak dimulainya agresi terhadap rakyat Palestina pada tanggal 7 Oktober 2023. 

Tentara Israel Menceret Hebat

Surat kabar Yedioth Ahronoth dan Middle East Monitor Jumat (8/12/2023), melaporkan, wabah penyakit pencernaan dan keracunan makanan menerpa kalangan tentara Israel (Israel Defence Forces, IDF) di selatan negara yang diduduki, dan khususnya mereka yang ditempatkan di Jalur Gaza.

Baca Juga : 7 Alasan Israel Terpaksa Gencatan Senjata

Sejak awal perang Israel melawan Palestina di Gaza, Sabtu 7 Oktober 2023, banyak restoran, jaringan penyuplai makanan, dan individu telah menyumbangkan makanan kepada tentara Israel.

Namun, menurut Kepala Unit Penyakit Menular di Rumah Sakit Assuta Ashdod University, Dr. Tal Brosh, diduga penyimpanan makanan, transportasi, dan persiapan yang buruk telah menyebabkan peningkatan penyakit pencernaan, diare parah, dan suhu tinggi di kalangan tentara. 

“Diare telah menyebar di kalangan tentara di selatan [Israel], di berbagai wilayah konsentrasi, dan kemudian menyebar di antara tentara yang berperang di Gaza,” kata dokter Brosh.

Baca Juga : 42 Hari Genosida di Palestina, Zionis Israel Bunuh 5.000 Anak-anak dan 3.300 Wanita

“Kami mendiagnosis infeksi bakteri Shigella yang menyebabkan disentri, penyakit sangat berbahaya yang menyebar di kalangan pejuang di Gaza.” 

Brosh menambahkan, merebaknya penyakit ini berdampak pada kondisi prajurit dan pelaksanaan operasi tempur.

“Jika infeksi menyebar di antara 10 tentara di kompi infanteri, dan mereka mengalami demam setelah suhu tubuh mencapai 40 derajat Celcius, dan mereka mulai mengalami diare setiap 20 menit, maka mereka tidak lagi sehat untuk berperang dan mereka membuat diri mereka terkena risiko kematian,” kata dokter Brosh.

Para tentara Israel yang sakit dan terluka hanya bisa dievakuasi kembali wilayah pendudukan Israel melalui udara. Evakuasi darat tidak memungkinkan karena sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, terus membuntuti IDF di daratan Gaza dengan senjata antitank lapis baja. Belum lagi banyaknya ranjau jebakan Hamas di berbagai penjuru.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Dr. Tal Brosh #diare landa tentara Israel #Israel Defence Forces #Rumah Sakit Assuta Ashdod University #Antonio Guterres #korban tewas di Gaza #Brigade Izz Al-Din Al-Qassam #McDonald's #Boikot Israel
Youtube Jejakfakta.com