Pemerintah Indonesia akan melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton sebagai upaya mengamankan stok cadangan beras di Indonesia.
Menanggapi hal itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan, Imran Jausi menyebut, rencana pemerintah mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton itu tidak diperlukan.

"Impor itu katanya sebagai upaya mengamankan stok cadangan beras di Indonesia. Untuk skala Provinsi Sulawesi Selatan tidak membutuhkan ada beras impor karena kita sendiri bahkan menyuplai ke beberapa provinsi lain," sebut Imran.
Baca Juga : Ketua PORDI Sulsel Buka Turnamen Domino Wali Kota Cup Palopo 2026, Ribuan Peserta Ramaikan
Menurutnya, Sulsel siap memasok beras ke gudang Bulog guna memenuhi kebutuhan cadangan beras pemerintah (CBP). Terlebih selama ini, Sulsel juga menyuplai beras untuk beberapa provinsi ke Kalimantan dan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Stok beras di Sulsel juga cukup aman sampai saat ini. Dengan demikian, tidak tepat rasanya apabila Sulsel juga menerima beras impor.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulsel memiliki lahan pertanian seluas 1,4 juta hektare yang dapat menghasilkan 5,3 juta kilogram gabah kering giling (GKG). Jumlah itu mampu menghasilkan 3,6 juta kilogram beras.
Baca Juga : Mentan Amran Sidak Bea Cukai Karimun, Temukan Ribuan Ton Beras Ilegal: "Ini Pengkhianatan Terhadap Petani!"
Sedangkan kebutuhan masyarakat Sulsel, mencapai sekitar 1 juta kilogram. Jumlah ini diyakini masih surplus.
Kendati demikian Imran tidak menampik keberadaan beras impor di Sulsel pada 2019-2020. Tapi itu hanya beras-beras tertentu yang digunakan untuk hotel maupun katering.
"Tapi itu menurut saya juga itu tidak terlalu banyak kebutuhannya. Khusus untuk Sulsel, kebutuhan pangan kita, konsumsi kita, sudah sangat terpenuhi sehingga rasanya tidak wajar kalau ada beras impor masuk di Sulawesi Selatan," lanjut Imran.
Baca Juga : Pelantikan Pengurus PORDI Sulsel, IAS Canangkan Liga Domino Lima Seri Tiap Tahun
Untuk menjaga stok beras, Sulsel berkolaborasi dengan Bulog untuk menyerap beras dari petani-petani lokal. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga cadangan pangan pemerintah.
Selama ini, beras-beras asal Sulsel diantarpulaukan baik oleh pedagang besar yang masyarakat maupun melalui Bulog. Penyerapan beras lokal ini juga disesuaikan dengan standar harga masyarakat.
Sebelumnya, Kepala Divisi Regional Bulog Sulawesi Selatan, Bakhtiar AS mengungkapkan, stok beras di Sulsel masih mencapai angka 138 ribu ton, dan itu masih cukup hingga 21 bulan ke depan. Jumlah tersebut sudah dikurangi dengan beras yang didistribusikan Sulsel ke sejumlah daerah di Indonesia.
Baca Juga : Ilham Arief Sirajuddin Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PORDI Sulsel 2026–2030
"Awal 2022, stok beras di Sulsel sekitar 300 ribu ton. Tapi Sulsel kan jadi penyanggah beberapa provinsi di Indonesia, jadi kita kirim sebanyak 180 ribu ton ke sejumlah daerah," ungkapnya.
Ada tujuh provinsi yang menjadi tujuan pengiriman beras asal Sulsel, yaitu Papua, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan DKI Jakarta.
Untuk serapan beras di Sulsel menurut Bakhtiar, sudah capai target. "Per akhir November 2022 sudah 100%, sekarang sudah terserap beras 262 ribu ton. Kita harap nasional juga bisa capai target hingga akhir tahun," tandas Bakhtiar. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




