Jejakfakta.com, MAKASSAR -- Mulai 1 Januari 2025, dua dari tiga koridor Teman Bus Trans Mamminasata resmi berhenti beroperasi. Keputusan ini diambil setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghentikan subsidi operasional. Kini, hanya Koridor 5 dengan rute Unhas Tamalanrea-Teknik Unhas Gowa yang masih melayani masyarakat.
“Awalnya ada tiga koridor yang mendapat subsidi penuh dari Kemenhub. Namun, per 1 Januari 2025, subsidi tersebut hanya diberikan untuk Koridor 5,” ujar Kepala UPT Trans Mamminasata, Andi Nurdiyana, Sabtu (4/1/2025).

Adapun dua koridor yang dihentikan adalah Koridor 1 rute Panakkukang Square-Pelabuhan Galesong dan Koridor 2 rute Unhas Tamalanrea-Stasiun Mandai via Bandara Sultan Hasanuddin.
Baca Juga : Pemkot Makassar Kejar Lahan "Clear and Clean", Jembatan Barombong Siap Dibangun 2027
Warga Kehilangan Layanan Favorit
Nurdiyana mengungkapkan bahwa kedua koridor yang berhenti beroperasi cukup diminati masyarakat. Dengan tarif yang terjangkau—Rp 4.500 untuk umum dan Rp 2.000 untuk lansia, pelajar/mahasiswa, serta penyandang disabilitas—layanan ini menjadi andalan banyak warga.
“Selama beroperasi, ketiga koridor ini menunjukkan peningkatan signifikan dari jumlah penumpang. Namun, subsidi dari pusat tidak bisa selamanya diberikan,” jelasnya.
Baca Juga : Makassar Bidik Transportasi Modern, Munafri Tawarkan Skema BTS dan Subsidi APBD untuk Bus Kota Terintegrasi
Harapan pada Pemprov Sulsel
Pemprov Sulsel saat ini tengah mengkaji kemungkinan pengoperasian kembali salah satu koridor yang dihentikan menggunakan subsidi dari APBD. Meski begitu, belum ada kepastian koridor mana yang akan diambil alih.
“Kedua koridor ini sama pentingnya. Koridor 2 terintegrasi dengan kereta api dan bandara, sedangkan Koridor 1 melayani wilayah Takalar dan Tanjung Bunga yang juga banyak pengguna,” kata Nurdiyana.
Dari segi jumlah penumpang, Koridor 1 lebih unggul dibandingkan Koridor 2. Namun, keputusan akhir tetap menunggu ketersediaan anggaran Pemprov Sulsel.
“Seperti yang disampaikan Kadishub, kami menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran karena dana APBD juga terbatas,” pungkasnya.
Penghentian operasional dua koridor ini membuat sejumlah warga Makassar kehilangan transportasi andalan yang selama ini menawarkan kenyamanan dan tarif terjangkau. Keputusan selanjutnya kini berada di tangan Pemprov Sulsel.
Baca Juga : Kementerian ATR/BPN dan KPK Gencarkan Transformasi Layanan Pertanahan di Sulsel
Apakah salah satu koridor ini akan kembali hadir? Warga Makassar tentu berharap solusi terbaik agar layanan transportasi publik tetap memadai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




