Rabu, 25 Januari 2023 00:23

Kembangkan Pertanian Kota di Halaman Rumah dengan Irigasi Kapiler

Editor : Herlina
Ilustrasi hasil pertanian dengan menggunakan teknologi irigasi kapiler. (Dok. Jejakfakta.com/Int)
Ilustrasi hasil pertanian dengan menggunakan teknologi irigasi kapiler. (Dok. Jejakfakta.com/Int)

Irigasi kapiler adalah jenis irigasi bawah permukaan yang dapat menghemat air. Irigasi kapiler dapat dikembangkan pada skala rumah tangga di pekarangan dan kebun-kebun kelompok wanita tani di perkotaan.

Budidaya tanaman hortikultura tidak hanya berupaya memanfaatkan lahan tidur atau lahan yang belum tergarap. Peningkatan taraf kehidupan masyarakat juga dapat dihasilkan dengan melakukan kegiatan pertanian di bidang hortikultura. 

Pemerintah Kota Makassar misalnya, mulai pengelolaan lahan sempit dengan melakukan kegiatan budidaya yang memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan produktivitas lahan, seperti di pekarangan rumah yang sempit.

Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto menyebut, program pemanfaatan lahan sempit di pengarangan rumah dengan menanam sejumlah komoditas, seperti cabai dan tanaman hortikultura lainnya sebagai tanaman pengendali inflasi.

Baca Juga : Dekatkan Layanan ke Masyarakat, Tim Lontara+ Ramaikan CFD Makassar

Untuk membuat itu, tentu tidak hanya sekedar menanam, butuh proses dan dikerahkan lah penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari Dinas Perikanan dan Pertanian Makassar. Salah satunya bernama Rustan, 28. Rustan punya tugas sebagai PPL yang membina kelompok wanita tani (KWT) yang ada di ibu kota Sulawesi Selatan itu.

Rustan bercerita, awal mendampingi KWT, salah satunya KWT Anggrek, di Jalan Bontolempangan, Kelurahan Bara-baraya, Kecamatan Makassar, Kota Makassar itu sangat sulit, karena emak-emaknya punya kesibukan masing-masing. "Mereka ada kemauan, tapi sulit untuk memulai. Bingung bagaimana memanfaatkan lahan kosong yang sempit di pekarangan," serunya.

Akibatnya, meski KWT itu sudah mulai bergerak, menanam sejumlah komoditas seperti cabai, selada dan tanaman hortikultura lainnya, yang dihasilkan tidak maksimal, bahkan ada tang tidak berhasil. "Tapi kalau di Kota Makassar itu dimulai sejak 2014-2015, dan sebenarnya sudah pernah panen, sekarang lebih dikembangkan saja," lanjut Rustan.

Baca Juga : Urban Farming Jadi Senjata Baru Makassar Tekan Sampah, Wali Kota Instruksikan Gerakan Hingga Lorong

Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar ini mengatakan, kendala dalam pengembangan lahan sempit adalah air. Karena ada tanaman yang butuh banyak air, ada juga yang tidak butuh air berlebihan.

Rustan kemudian bersama rekannya Andi Kahfiani, sesama aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, membuat inovasi, yaitu sistem irigasi kapiler berbasis IoT (Internet of Things). 

Itu memudahkan monitoring dan mengontrol debit air penyiraman pada tanaman secara tepat. Hasil uji coba melalui sistem ini menunjukkan bahwa air yang digunakan dalam penyiraman tanaman sampai 80-95% lebih irit.

Baca Juga : Munafri Gandeng Muhammadiyah, Dorong Solusi Sampah hingga Urban Farming Berbasis Warga

"Melalui sistem ini, monitoring dan kontrol pemberian air pada tanaman dilakukan melalui telepon pintar (smartphone) sehingga dapat dilakukan kapan pun dan dari manapun," jelas Rustan.

Irigasi kapiler berbasis internet of things ini untuk urban farming. Program urban farming telah memberikan kontribusi nyata pada masyarakat, terutama dalam menarik minat untuk menanam tanaman yang bermanfaat di rumah masing-masing, khususnya masyarakat di perkotaan umumnya memiliki kendala waktu, lahan, sumber daya pendukung untuk bercocok tanam.

Irigasi merupakan metode yang mengatur pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman. Namun, seringkali ketersediaan air terbatas dan tidak dapat mencukupi kebutuhan tanaman. Penggunaan air secara efisien dalam budidaya tanaman dapat diterapkan dalam sistem irigasi yang mampu menekan kehilangan air melalui evaporasi, perkolasi, dan aliran permukaan tanpa menurunkan produktivitas.

Baca Juga : Efek Domino MBG di Makassar: Dongkrak Gizi Warga, Hidupkan Pasar Tradisional

Irigasi merupakan salah satu metode dalam pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman. Fungsi dari sistem irigasi secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, dan fungsi khususnya adalah pengambilan air dari sumber (diverting), pengaliran air dari sumber ke tanaman atau lahan (conveying), pendistribusian air kepada tanaman (distributing) serta pengaturan, dan pengukuran aliran air (regulating and measuring).

"Irigasi kapiler adalah jenis irigasi bawah permukaan yang dapat menghemat air. Irigasi kapiler dapat dikembangkan pada skala rumah tangga di pekarangan dan kebun-kebun kelompok wanita tani di perkotaan. Tanaman langsung mendapatkan air sesuai kebutuhannya melalui sistem irigasi bawah permukaan," urai Rustan.

Dia pun menambahkan, irigasi kapiler memiliki lima manfaat, yaitu kebutuhan air pada tanaman dapat dipastikan tercukupi. "Hemat air, karena sistem ini 80- 95% lebih irit air dibanding penyiraman secara konvensional. Juga efisien waktu, dimana penyiraman dilakukan secara otomatis, tambah Rustan.

Baca Juga : Perempuan Desa Jadi Motor Perubahan, Save the Children Dorong Perlindungan Anak Berbasis Komunitas

Selain itu, penyiraman dilakukan secara serentak, sehingga meminimalisasi tenaga kerja yang digunakan jika dibandingkan dengan penyiraman secara manual pada satu per satu tanaman.

Waktu penyiraman juga relatif singkat, sehingga masyarakat perkotaan tetap dapat beraktivitas sesuai rutinitasnya. Dan pastinya, efisien dan efektif pada kegiatan pemeliharaan tanaman, seperti pengendalian.


Prinsip kerja irigasi kapiler kata Rustan, terletak pada kain flanel yang diletakkan ke dalam pot/ polibag yang berperan sebagai penyerap air dari pori-pori kecil untuk mengalirkan air dari pipa PVC/wadah air (water reservoir).

Sistem irigasi kapiler mempunyai beberapa manfaat diantaranya mengurangi kehilangan air, memberikan keseragaman produksi per pot dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Kain flanel berperan sebagai kapiler atau merambat secara kapiler yang berupa pori-pori pada kain flanel.

"Kain flanel dapat digantikan dengan jenis lain, seperti benang kaos, rajut, atau sumbu kompor. Sistem kerja irigasi kapiler, dimulai dengan potongan kain flanel yang diletakkan di dalam pipa dan selanjutnya akan menyerap air dari pipa PVC yang berfungsi sebagai wadah air (water reservoir)," kata Rustan.

"Prinsip kerja irigasi kapiler yaitu proses penyerapan air dari bawah (sumber air dalam pipa PVC) ke atas dengan menggunakan kain flanel. Posisi kain flanel berada di tengah media tanam menyentuh perakaran tanaman," sambungnya.

Sistem irigasi kapiler menggunakan media porous untuk mengalirkan air secara kapiler dari sumber air menuju media tanam. Tanaman membutuhkan lebih banyak air dan nutrisi, sehingga kain flanel yang menyambungkan ke media tanam akan mendistribusikan air dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman secara optimal.

"Melalui cara ini, tanaman mengambil air dan larutan nutrisi dari ujung-ujung kain flanel dan media tanam yang dilewati kain flanel menjadi lembap," jela Rustan.

Kegiatan budi daya di Kota Makassar tanaman cabai di kebun KWT Anggrek dan tanaman sawi pakcoy di KWT Asoka, Kota Makassar, telah dapat dikontrol secara otomatis melalui irigasi kapiler pintar berbasis IOT.

Perangkat utamanya kata Rustan adalah Node MCU yang dilengkapi Wifi. Hal ini memudahkan para ibu anggota KWT dalam mengontrol dan memonitor debit air secara nirkabel.

"Untuk menyalakan pompa, mereka dapat memakai Google Assistant dan Modul Relay. Modul relay merupakan saklar/switch yang dioperasikan secara elektromagnetik dan terhubung ke pompa air," kata Rustan.

Sistem Perangkat aplikasi irigasi kapiler berbasis IoT dapat melakukan monitor dan kontrol yang efektif dan efisien karena tidak terkendala dengan jarak. Pengisian debit air pada pipa PVC secara otomatis akan menyala setiap 2-3 hari sekali.

Jika terjadi hujan dalam beberapa hari maka pengisian air pada pipa PVC dapat berlangsung pada interval 4-5 hari dengan menggunakan pipa PVC 2,5 inci.

Sebelumnya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menegaskan, pada kondisi saat ini dibutuhkan smart farming

Menurutnya, Smart Farming menjadi salah satu cara yang dapat digunakan para petani milenial untuk mengembangkan usaha. “Smart farming memungkinkan petani memiliki kendali yang lebih baik terhadap proses produksi, melalui pengelolaan pertanaman dan ternak secara efektif dan efisien,” jelasnya.

Teknologi Smart Farming berpotensi menjangkau peluang pasar yang lebih luas dan dapat dicapai dengan produk serta tenaga kerja terstandar melalui implementasi sistem agribisnis modern.

Smart Farming salah satunya dapat meningkatkan ketepatan dalam pemberian input tanaman dan lahan pertanian sehingga mendorong produksi pertanian lebih tinggi,” lanjut Dedi.

Keuntungan dari Smart Farming menurut Dedi, dapat membantu petani milenial untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan, meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, meningkatkan biodiversitas serta konservasi air.

"Keuntungan lain yang diperoleh adalah meningkatkan produksi tanaman hingga 20%, menurunkan penggunaan air sebesar 30%, mengurangi penggunaan tenaga kerja manusia sebanyak 50%, mengurangi penggunaan pupuk, dan pestisida sejumlah 10%," pungkas Dedi. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Irigasi Kapiler #Kelompok Wanita Tani #KWT #Makassar #Inovasi Pertanian #Urban Farming #Smart Farming
Youtube Jejakfakta.com