Pada buku tersebut diceritakaan bagaimana perjuangan Ronny lainnya saat ia meniti karier di PSM Makassar dan tim senior. Tertulis, Terpilih masuk skuad tim yunior PSM, membuat saya dua hari dua malam tidak tidur, karena saking gembiranya. Ia menuturkan, saat tim yunior PSM ikut turnamen Piala Soeratin, ada perjalanan melelahkan tapi penuh kenangan, ketika rombongan PSM muda itu menuju Jakarta dengan pesawat Dakota milik Angkatan Udara.
Sederet penghargaan ia terima, seperti atlet nasional terbaik SIWO PWI Jaya 1974 dan 1981 serta pemain terbaik kompetisi Galatama 1979 dan 1980. Ia juga bertahan di tim nasional sejak 1970 hingga 1980, rentang waktu yang lama.

Ronny mengundurkan diri sebagai pemain bola pada usia 31 tahun (1980), setelah mempersunting gadis Manado, Stella Maria Makalew. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai tiga anak, Robenno (Benny) Pattrick Pattinasarany (25 September 1978), Hendry (Yerry) Jacques Pattinasarany (20 Oktober 1979), dan Tresita (Gita) Diana Pattinasarany (18 November 1982). Ronny juga punya ponakan yang sudah dianggap anaknya sendiri, Pieter Anroputra (24 September 1992).
Baca Juga : PSM Makassar Bangkit, Tekuk Persik Kediri 3-1 dan Dekati Zona Tengah Klasemen
7. Keng Wie, Benteng Putih

Keng Wie alias Budi Wijaya merupakan pemain PSM Makassar era 1963-1974. Pemain PSM Makassar keturunan Tionghoa ini berposisi sebagai bek tengah yang tangguh sehingg dijuluki ‘Benteng Putih’ dimasanya. Bahkan Keng Wie ikut menghantarkan PSM Makassar menjuarai kompetisi Piala PSSI di era Perserikatan pada tahun 1965.
Baca Juga : Comeback Taktis di Babak Kedua, PSM Makassar Petik Kemenangan Dramatis
Keng Wie mengabdi pada tim Juku Eja selama 7 tahun lamanya. Sebelumnya, Pria yng sangat menyukai air putih ini tergabung dalam klub binaan PSM Makassar, Cunghua. Bisa berkostum PSM Makassar dan berada satu tim dengan Ramang sudah membuatnya bahagia kala itu. Dia pun bercerita tentang suka dukanya selama membela PSM Makassar.
“Di era saya dulu, tidak ada pemain yang pernah menuntut gaji. Kita kadang diberi beras satu kantong, itupun sesekali saja. Tidak ada gaji ataupun uang yang didapat walaupun kita juara. Jersey pun harus dikembalikan sudah dipakai, baju latihan juga kita beli sendiri. Sepatu kalau rusak baru digantikan yang baru” ucapan sang legenda yang dikutip dari fajar.co.id dalam tulisan yang berjudul Kilas Balik Sepak Bola Sulsel, Kontribusi Etnis Tionghoa Sejak Era Perserikatan Sepakbola.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




